Waspada Fitnah Jabatan

SETELAH bergulirnya reformasi, sistem politik kita menjadi terbuka. Terbuka kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi pejabat publik. Semua orang kemudian berlomba-lomba untuk meraih impian menjadi pejabat. Sehingga tidak heran, jika kemudian di setiap proses kontestasi politik selalu ramai didatangi oleh para bakal calon pejaba, untuk mencoba peruntungannya. Ada yang berhasil, tetapi tentu lebih banyak lagi yang tidak berhasil.

Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan menjadi pejabat dan pemimpin. Sejauh memang memiliki kompetensi dan ikhlas meniatkannya sebagai bagian dari ibadah dan pengabdian kepada Allah. Bahkan seseorang yang memang dinilai oleh ummat, memiliki kompetensi dan kemampuan untuk memegang sebuah jabatan publik…tidak boleh menghindari amanah tersebut. Karena ketika ia menghindarinya, maka yang akan tampil justru sebaliknya…orang-orang yang tidak kompeten, hanya ditopang oleh ambisi murni, membeli jabatan dengan suap. Dan disinilah awal dari kerusakan akan dimulai.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa diserahi kekuasaan urusan manusia lalu menghindar (mengelak) melayani kaum lemah dan orang yang membutuhkannya maka Allah tidak akan mengindahkannya pada hari kiamat.” {H.R.Ahmad}
Dan apakah ia harus mengorbankan akhiratnya, karena berusaha mengindari fitnah jabatan tersebut sementara ia sendiri tidak memiliki ambisi apapun…tetapi ia diminta, karena bangsa dan Negara membutuhkan kemampuannya, ilmunya dan akhlaknya. Rasulullah mengharamkan orang-orang ambisius untuk menjadi pejabat. Rasulullah SAW bersabda: “Kami tidak mengangkat orang yang berambisi berkedudukan.” {H.R.Muslim}

Dan dalam hadist yang di riwayatkan Imam Ahmad di atas, justru memerintahkan kepada orang yang tidak berambisi untu menjalankan amanah kepemimpinan tersebut dengan sebaik-baiknya. Sebuah jabatan, insya Allah akan baik dan memberi manfaat yang luas kepada ummat. Berkah dan mendatangkan kemaslahatan bagi seluruh masyarakat…selama dijalankan dengan hati-hati dan istikomah. Karena, jika tidak sangat berhati-hati…sifat tidak amanah hanya akan mendatangkan penyesalan fid dunia wal akhirath. Rasulullah SAW bersabda:
“Jabatan (kedudukan) pada permulaannya penyesalan, pada pertengahannya kesengsaraan (kekesalan hati) dan pada akhirnya adalah azab pada hari kiamat.” {H.R.Athabrani}. Karena itu, teruslah di jalan Allah. Dan istikomah. Insya Allah, selamat dunia akhirat.  Wallahu A’lamu Bishawwab.

Pin It on Pinterest

Read previous post:
Jasa Senei Manual Masih Langka

MASIH sedikit orang yang bisa melihat peluang dan memanfaatkannya sebagai mata pencaharian. Berbekal keterampilan yang dimiliki sebagai teknisi perbengkelan alias

Close