Memaknai Hijrah

TAHUN baru hijriyah, adalah momentum untuk memperingati peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW dan para sahabat dari kota Mekkah menuju Madinah. Peristiwa monumental ini terjadi pada tahun 622 Masehi. Meski dengan berat hati, Rasulullah meninggalkan tanah kelahirannya, kota Mekkah yang saat itu suasana dakwahnya belum kondusif. Dan di Madinah, Rasulullah mendapatkan sambutan yang begitu antusias dari sahabat anshor dan kemudian beliau meletakkan pilar-pilar dakwah sehingga cahaya dan syi’ar Islam kemudian memancar ke seluruh dunia hingga hari ini.

Nah, HIJRAH…adalah sebuah kata yang sangat sering kita dengar pada saat ini. Ada muslimah yang belum behijab, kemudian memutuskan untuk segera berhijab…dan orang menyebutnya, sudah berhijrah. Ada seorang ahli maksiat yang kemudian bertobat dan menjadi ahli ibadah, dan orang menyebutnya juga sudah berhijrah. Ada seorang remaja yang suka gonta-ganti pacar, kemudian memutuskan untuk tidak melakukannya lagi…kemudian orang menyebutnya juga sudah berhijrah. Dan lain sebagainya.

Sehingga, dapat disimpulkan bahwa HIJRAH itu sendiri bukan hanya istilah untuk menunjukkan perpindahan seseorang dari satu tempat ke tempat lainnya…tetapi juga hijrah meliputi transformasi (perubahan) perilaku dari yang awalnya belum baik menjadi lebih baik. Dan sesungguhnya inilah salah satu dasar pertimbangan para sahabat, saat di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab merumuskan sistem kalender Islam. Agar ummat setelah itu selalu ingat tentang betapa pentingnya arti ber-HIJRAH.

Sebagai manusia, tentu kita pernah mengalami situasi dan kondisi yang membuat kita tidak nyaman. Atau berada di tempat yang memberikan pengaruh negatif terhadap keadaan diri kita, keluarga kita dan ruhani kita. Sebagai contoh, kita berada di lingkungan yang provokatif dan suka menghasut. Mungkin secara teknis kita senang jika berada di lingkungan yang dekat dengan keluarga besar. Namun cukup sering terjadi, justru ketika ada konflik sedikit antara suami istri…keluarga bukan menjadi pendamai tetapi justru menjadi “kompor” yang membuat konflik sederhana berkembang menjadi rumit dan besar. Dan dibutuhkan keberanian untuk segera HIJRAH demi menyelamatkan keutuhan rumah tangga. Keberanian kita untuk melakukan HIJRAH menuju keadaan yang lebih baik, akan sangat menentukan perjalanan hidup kita di masa yang akan datang. Selamat tahun baru hijriyah. Semoga masyarakat kita menjadi semakin maju dan jaya. Amiin. Wallahu A’lamu bishawwab.

Read previous post:
Menerawang 1 Muharam di Bukit Sukuh, Bulan Baru Tertutup Mega

KARANGANYAR (MERAPI) - Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Karanganyar bersama Observatorium Club Astronomi Santri Assalaam (CASA) melakukan pengamatan kemunculan bulan baru

Close