Lima etika bermusyawarah dalam Islam, di antaranya bersikap lemah lembut

- Jumat, 28 Oktober 2022 | 05:59 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)

HARIAN MERAPI - Begitu pentingnya masalah musyawarah dalam pandangan Islam sehingga satu di antara 114 surat dalam Al-Quran bernama “Assyura” yang artinya musyawarah.

Firman Allah SWT: “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal.” (QS Ali Imran,3:159).

Maksud dari ayat ini adalah dalam menghadapi setiap permasalahan supaya senantiasa berlaku lemah lembut dan tidak bersikap keras serta berhati kasar yang dapat menyakiti orang lain, karena menyakiti orang lain dalam Islam adalah termasuk salah satu dosa besar.

Baca Juga: Muhasabah menuju masa depan lebih baik

Ayat ini juga menjelaskan sebaiknya dalam menyelesaikan setiap masalah kita harus mengutamakan untuk melakukan musyawarah, sehingga dapat ditemukan “win win solution”, bukan “win lost solution”, apalagi “lost lost solution.”

Agar musyawarah untuk mufakat yang diselenggarakan itu mendapatkan hasil keputusan terbaik dan mendapat ridha Allah SWT maka setiap kita mesti memahami kaidah dalam bermusyawarah sebagaimana terangkum dalam QS Ali Imran, 3:159; yakni:

Pertama, bersikap lemah lembut. Dalam bermusyawarah harus dapat bersikap lemah lembut, baik dalam sikap, ucapan dan tindakan, penuh dengan empati dan menghargai semua lawan bicara.

Kelemahlembutan inilah yang akan menghantarkan musyawarah kepada hasil yang maksimal.

Kedua, mudah memberi maaf. Sikap ini harus dimiliki dalam bermusyawarah, sehingga akan berjalan dengan baik dan saling berlapang dada.

Jika masing-masing orang yang bermusyawarah diliputi kekeruhan hati, marah, rasa ingin menyerang lawan bicara dan sebagainya, akan menjadikan musyawarah tidak produktif dan cenderung melelahkan pesertanya.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Sikap Muslim terhadap Al Qu’ran

Rabu, 1 Februari 2023 | 06:17 WIB
X