Perempuan bawa pistol, Istana nyaris kebobolan

- Kamis, 27 Oktober 2022 | 07:00 WIB
Ilustrasi (harian merapi)
Ilustrasi (harian merapi)

ISTANA Kepresidenan nyarir kebobolan menyusul seorang perempuan yang hendak masuk ke Istana dengan membawa pistol jenis FN. Bahkan perempuan tersebut sempat menodongkan ke arah Paspampres.

Namun belum sampai menerobos istana, perempuan misterius itu berhasil dibekuk Paspampres dan selanjutnya digelandang ke kantor polisi.

Peristiwa yang terjadi pada Selasa pagi pekan lalu itu tentu menjadi warning bagi sistem keamanan khususnya di ring satu, Istana Kepresidenan. Meski perempuan tersebut belum sampai menerobos Istana,  namun setidaknya telah masuk ke area dekat Istana. Untung Paspampres sigap segera mengamankan perempuan itu dan menyerahkannya ke polisi.

Siaran pers dari Polri belum menyimpulkan perempuan tersebut terkait dengan kelompok terorisme, karena masih didalami petugas. Memang sebaiknya tidak buru-buru menyimpulkan sebelum pemeriksaan selesai. Meski begitu Densus 88 Mabes Polri tetap mendalami kasus tersebut, termasuk motif di balik kejadian itu.

Baca Juga: Wantannas RI gelar audiensi penguatan nilai Pancasila di lingkungan Ponpes

Prinsip kehati-hatian dan tidak gegabah harus diterapkan dalam pemeriksaan perempuan yang membawa senjata api tersebut. Karena yang bersangkutan sudah ditahan, polisi lebih leluasa untuk memeriksanya, termasuk mengungkap mengapa yang bersangkutan membawa senjata api, untuk tujuan apa dan seterusnya.

Perlu pula dikejar  senjata api itu diperoleh dari mana. Kalaupun ia memperoleh dari teman, harus dikejar siapa temannya, di mana alamatnya dan seterusnya. Pendek kata, kasus tersebut harus diusut tuntas.

Menjadi sangat fenomenal karena ada seorang perempuan membawa senjata api jenis FM datang ke lingkungan Istana Kepresiden.

Apakah ia datang atas inisiatif sendiri atau instruksi orang lain, ini juga perlu ditelusuri. Harus pula diperiksa apakah ada surat izin yang bersangkutan membawa senjata api atau tidak. Sebab, kalau hendak memproses hukum seseorang, siapapun dia, prosedur dan objek pemeriksaan harus jelas, serta harus jelas pula dasar hukumnya.

Halaman:

Editor: Hudono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Catatan Hendry Ch Bangun: Ombudsman Media

Rabu, 1 Februari 2023 | 12:00 WIB

Sikap Muslim terhadap Al Qu’ran

Rabu, 1 Februari 2023 | 06:17 WIB

Mengapa mengemis daring dilarang, ini sebabnya

Selasa, 31 Januari 2023 | 09:30 WIB

Awas, jangan beli barang curian, ini risikonya

Senin, 30 Januari 2023 | 11:00 WIB

Cegah anak terlibat klitih, orangtua pun perlu dibina

Senin, 30 Januari 2023 | 09:30 WIB

Catatan Hendry Ch Bangun: Setelah kompeten, apa?

Selasa, 24 Januari 2023 | 11:00 WIB
X