• Sabtu, 10 Desember 2022

Judi sabung ayam marak di Gunungkidul, begini langkah polisi

- Selasa, 20 September 2022 | 11:00 WIB
sabung ayam    (Ilustrasi Sibhe)
sabung ayam (Ilustrasi Sibhe)


MEMBERANTAS perjudian memang tidak gampang, butuh proses. Bahkan, hampir setiap hari pasti ada praktik perjudian, persoalannya ketahuan aparat atau tidak. Malahan, ada yang terkesan dibiarkan, padahal perjudian jelas-jelas melanggar hukum sebagaimana diatur Pasal 303 KUHP.

Beberapa hari lalu Polres Gunungkidul menggerebek sabung ayam di Pasarpring, Kranon, Kepek Wonosari. Petugas menetapkan dua orang sebagai tersangka, sedang lainnya berstatus saksi. Petugas juga menyita barang bukti di antaranya 2 ekor ayam, 2 keranjang ayam, uang taruhan, dan HP.

Mungkin tidak terlalu sulit bagi petugas untuk membuat BAP kasus perjudian tersebut. Tapi diyakini bahwa judi sabung ayam yang digerebek itu hanyalah judi kecil-kecilan dengan uang taruhan sangat kecil. Lantas bagaimana dengan perjudian berskala besar seperti di Jakarta yang omsetnya sehari bisa mencapai triliunan rupiah ?

Baca Juga: Jenazah Prof Azyumardi Azra diberangkatkan ke TMP Kalibata, usai disalatkan di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Di sinilah komitmen Kapolri untuk memberantas perjudian diuji. Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo bertekad memberantas perjudian hingga ke akar-akarnya. Hal ini dilatarbelakangi kasus Ferdy Sambo yang disebut-sebut membekingi perjudian berskala besar. Untuk hal yang disebut terakhir ini polisi masih belum menemukan keterkaitan perjudian itu dengan Sambo.

Namun, namanya perjudian tetap saja dilarang, baik skala besar maupun kecil, baik yang beromzet puluhan ribu hingga triliunan rupiah. Hanya saja kita mengingatkan bahwa penegakan hukum tak boleh tebang pilih. Sampai sejauh ini Indonesia belum mengizinkan perjudian sebagai aktivitas yang legal, tak seperti di negara tetangga Singapura misalnya. Di sana, perjudian diperbolehkan namun tempatnya dilokalisir.

Kalau mau jujur, di Indonesia sebenarnya semua kegiatan bisa menjadi sarana perjudian. Orang nonton sepakbola saja, bisa berjudi, misal tebak skor dengan taruhan. Itu jelas perjudian meski ada yang menganggapnya sebagai kelaziman. Pada prinsipnya, perjudian sebagaimana dimaksud KUHP mengandung unsur untung-untungan dengan sedikit memanfaatkan kemahiran atau keahlian.

Baca Juga: Lokasi CCTV ETLE terbaru di Jawa Tengah, awas ada 602 kamera tilang elektronik yang bergerak!

Persoalannya, ketahuan petugas atau tidak. Begitu pula adu kecepatan burung merpati, yang marak di hampir seluruh pedukuhan, bisa menjadi sarana judi, tinggal mau taruhan atau tidak. Bila dengan taruhan maka pelakunya sudah bisa dijerat Pasal 303 KUHP. Bisa jadi saat berlangsung adu kecepatan di lokasi tidak ada uang, namun mereka bisa transfer sehingga tidak ketahuan petugas.

Memberantas perjudian tidalah cukup dengan pendekatan hukum saja, melainkan juga pendekatan budaya, sosial dan agama sehingga penyelesaiannya komprehensif. (Hudono)

Halaman:

Editor: Hudono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Awas copet berseragam, ini aksi mereka

Jumat, 9 Desember 2022 | 11:00 WIB

Bila DC rampas motor, ini akibatnya

Jumat, 9 Desember 2022 | 10:00 WIB

Hukuman sungkem untuk anak nakal, efektifkah ?

Jumat, 9 Desember 2022 | 09:30 WIB

Mengembangkan jiwa pemaaf

Jumat, 9 Desember 2022 | 05:30 WIB

Bila penjahat nyamar penghuni kos, ini yang terjadi

Kamis, 8 Desember 2022 | 10:00 WIB

Awas, paranormal gadungan beraksi di media sosial

Kamis, 1 Desember 2022 | 11:30 WIB

Waspadai maling di lokasi bencana gempa Cianjur

Selasa, 29 November 2022 | 10:55 WIB

Teladan Jayamahe

Selasa, 29 November 2022 | 09:15 WIB
X