• Senin, 27 Juni 2022

Pabrik Obat Ilegal Digerebek, Ironi di Kota Pendidikan

- Selasa, 28 September 2021 | 16:50 WIB
Tersangka yang diamankan polisi dari pabrik obat terlarang di Bantul dan Sleman (FOTO: RIZA MARZUKI)
Tersangka yang diamankan polisi dari pabrik obat terlarang di Bantul dan Sleman (FOTO: RIZA MARZUKI)

INILAH  tangkapan terbesar sepanjang sejarah dalam kasus kejahatan obat-obatan berbahaya dan terlarang, atau sering disebut pil koplo. Ditipidnarkoba Bareskrim Mabes Polri dibantu Polda DIY menggerebek dua pabrik pembuatan sekaligus gudang obat-obatan keras dan berbahaya di Yogya, yang berlokasi di Jalan IKIP PGRI No 158 Sonosewu Ngestiharjo Kasihan Bantul dan utara Pos Pelemgurih Gamping Sleman pekan lalu.

Kita sebut tangkapan ini spektakuler. Bayangkan, dalam satu hari kedua pabrik ilegal tersebut memproduksi 14 juta pil tiap harinya. Dengan asumsi 1 butir pil dijual Rp 1000, maka dalam satu hari omsetnya Rp 14 miliar. Ya, itu dalam waktu satu hari. Dalam satu bulan, tinggal dikalikan.


Polisi telah mengamankan dan menetapkan tiga tersangka WZ (53) selaku penanggung jawab gudang, warga Karanganyar Jateng, DA 949) penerima order warga Kasihan Bantul dan kakaknya JSR (56), pemilik pabrik warga Gamping Sleman. Diperkirakan obat ini sudah beredar di seluruh Indonesia.

Baca Juga: Azis Syamsuddin Mundur dari Wakil Ketua DPR, MKD Tak Perlu Gelar Sidang Etik

Terbongkarnya kasus ini merupakan pengembangan dari operasi yang dilakukan kepolisian di Cirebon, Indramayu, Majalengka, Bekasi dan Jakarta Timur. Dari TKP tersebut polisi menyita 5 juta pil golongan keras dan 8 tersangka. Nah dari situlah polisi mendapat petunjuk bahwa obat-obat tersebut berasal dari Yogya.

Kasus ini sungguh membuat kita miris. Pertama, peristiwanya terjadi di Yogya yang dikenal sebagai kota pendidikan, kota budaya, kota sejarah, dan sejumlah predikat unggul lainnya, sungguh ironis.


Kedua, melihat omzetnya yang luar biasa, yakni Rp 14 miliar sehari dengan produksi 14 juta pil sehari, maka bisa dibayangkan betapa banyak orang yang menjadi korban pemakaian obat-obat berbahaya ini. Obat ini telah meracuni jutaan generasi muda, karena umumnya pengguna adalah anak muda.

Baca Juga: Tanggulangi Kanker Hati, Masyarakat Diimbau Periksa Dini, Begini Petunjuk Dokter

Ketiga, dua pabrik ini telah beroperasi tiga tahun lalu. Bagaimana mungkin selama itu tidak terdeteksi, baik oleh petugas maupun masyarakat ? Mungkin benar, pabrik tersebut beroperasi secara tertutup, sehingga aktivitas pegawainya tidak mencolok. Tapi, justru dengan tertutup itulah mestinya masyarakat curiga, ada apa di dalam pabrik itu.

Halaman:

Editor: Hudono

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Bentuk Fisik Rasulullah, Ini Menurut Para Ulama

Minggu, 26 Juni 2022 | 07:00 WIB

Pengaruh Budaya Suap pada Aqidah Muslim

Rabu, 22 Juni 2022 | 06:50 WIB

Hukum Suap dalam Islam

Selasa, 21 Juni 2022 | 08:30 WIB

2 Suporter di GBLA Tewas, Tanggung Jawab Siapa?

Senin, 20 Juni 2022 | 09:30 WIB
X