• Selasa, 7 Desember 2021

Semangat Perubahan Butuh Perjuangan dan Pengorbanann Tak Mudah

- Senin, 20 September 2021 | 05:00 WIB
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkasih Putro, M. Si. (Dok. Pribadi)

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala mengumpamakan orang-orang yang ingin menempuh jalan yang baik dan selalu melakukan perubahan diri dengan istilah menempuh jalan yang mendaki dan sukar.

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Dan tahukah kamu apakah jalan yang mendaki dan sukar itu? (yaitu) melepaskan perbudakan (hamba sahaya), atau memberi makan pada hari terjadi kelaparan, (kepada) anak yatim yang ada hubungan kerabat, atau orang miskin yang sangat fakir. Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang”. (Al-Balad, 90:11-17).

Juga firman-Nya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’d, 13:11).

Baca Juga: Kejujuran Membawa Nikmat 22: Sesudah Kesulitan Ada Kemudahan

Dari ayat-ayat Al-Quran di atas jelas tampak bahwa sebuah perubahan perlu adanya perjuangan dan pengorbanan yang tidak mudah. Jika kita mengenang bagaimana Rasulullah Muhammad Shallallaahu’alaihi Wa Sallam dan para sahabat hijrah dari Mekkah al-Mukarramah ke Madinah al-Munawwarah, kita akan menyadari betapa beratnya perjuangan beliau dan para sahabat.

Ada beberapa faktor yang dapat menguatkan dan memotivasi seseorang untuk senantiasa merubah dirinya menuju kepada kebaikan, yakni senantiasa memohon petunjuk/hidayah dan pertolongan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bersungguh-sungguh dalam melakukan setiap aktifitas, mengikuti gerak langkah orang-orang yang ikhlas dan khusuk, serta memacu dan memicu diri untuk perubahan yang lebih baik dan mulia.

Dalam setiap rakaat shalat, kita selalu membaca surat Al-Fatihah, dimana kita menyampaikan doa agar mendapatkan hidayah-Nya. Hidayah adalah sesuatu yang sangat mahal harganya. Batas yang memisahkan antara orang yang masuk ke surga dan neraka adalah kalimat syahadat.

Baca Juga: Gantungkan Cita-cita Setinggi Langit 3: Kesuksesan Anak, Kebanggaan Orangtua

Kalimat syahadat, secara verbal tidaklah panjang, namun betapa beratnya untuk diucapkan jika seseorang tidak mendapat hidayah. Bahkan Rasulullah Muhammad Shallallaahu’alaihi Wa Sallam sendiri tidak dapat memberi hidayah kepada pamannya, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh, engkau (Muhammad) tidak dapat memberi petunjuk kepada orang yang engkau kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”. (QS. Al-Qasas, 28:56).

Ayat ini turun berkaitan dengan tidak berhasilnya Rasulullah mengajak pamannya (Abu Thalib) untuk menyebut kalimat tauhid ketika ajal menjemputnya.

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Lima Ujian yang Dihadapi Hidup Orang Beriman

Jumat, 26 November 2021 | 05:00 WIB

Empat Macam Kedudukan Anak dalam Al Quran

Senin, 22 November 2021 | 04:36 WIB

Enam Buah Takwa yang Dinjanjikan Allah dan Rasul-nya

Jumat, 12 November 2021 | 05:00 WIB

Makna Pahlawan dalam Perspektif Islam

Rabu, 10 November 2021 | 05:00 WIB

Roja’ Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Rabu, 27 Oktober 2021 | 05:00 WIB
X