Syarat terwujudnya sikap tawakkal kepada Allah, di antaranya tidak mudah putus asa dan patah semangat

- Rabu, 15 Maret 2023 | 05:59 WIB
 Dr. H. Khamim Zarkash Putro, M. Si. (Dokumen Pribadi)
Dr. H. Khamim Zarkash Putro, M. Si. (Dokumen Pribadi)

HARIAN MERAPI - Kata tawakkal berasal dari bahasa Arab dengan kata dasarnya wakilun.

Dalam kamus-kamus bahasa, seperti kamus Al-Munjid disebutkan, kata wakil/wakilun diartikan sebagai menyerahkan, membiarkan, serta merasa cukup (pekerjaan itu dikerjakan oleh seorang wakil).

Tawakkal kepada Allah adalah suatu sikap mental seseorang yang merupakan hasil dari keyakinannya yang bulat kepada Allah, karena di dalam ajaran tauhid ia diajari agar meyakini bahwa hanya Allah yang menciptakan segala-galanya, pengetahuan-Nya Maha Luas.

Baca Juga: Ini dia, penyebar konten pornografi lewat aplikasi yang ditangkap polisi. Begini modusnya!

Dia lah yang menguasai dan mengatur alam semesta dengan segala isinya ini.

Keyakinan inilah yang mendorong seseorang untuk menyerahkan segala persoalannya kepada Allah SWT.

Hatinya tenang dan tenteram serta tidak ada rasa khawatir dan gelisah, karena dia tahu bahwa Allah Maha Tahu dan Maha Bijaksana.

Dari Umar bin Al-Khaththab RA berkata, bahwa Nabi SAW bersabda,

“Seandainya kalian betul-betul bertawakkal pada Allah, sungguh Allah akan memberikan kalian rezeki sebagaimana burung mendapatkan rezeki. Burung tersebut pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar dan kembali sore harinya dalam keadaan kenyang.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Al-Hakim).

Barangsiapa berjalan di muka bumi ini sambil mengharap karunia dan rezeki Allah Azza wa Jalla, niscaya ia termasuk orang-orang yang berhak menerima dan menikmatinya.

Baca Juga: Puasa Ramadan sudah dekat, jangan lupa konsumsi madu agar tubuh tetap bugar

Sebaliknya, barangsiapa yang hanya berpangku tangan dan bermalas-malasan, maka ia termasuk orang-orang yang tidak berhak menerima karunia Allah Azza wa Jalla.

Salah satu fungsi agama bagi umatnya adalah fungsi sublimatif, dalam artian semua amalan duniawi yang dikerjakan dengan penuh ketekunan dan disertai dengan niat yang benar serta tidak menyimpang dari hukum-hukum Islam, merupakan ibadah (ibadah ghairu mahdhah).

Jerih payah seseorang dalam mempertahankan eksistensi diri, hidup dan kehidupannya, demi kehormatan diri dan keluarganya, atau demi berbuat baik terhadap kerabat dan tetangganya,

atau demi membantu usaha-usaha dakwah dan sosial serta menegakkan kebenaran, itu termasuk dalam kategori jihad fii sabîlillâh (berjuang di jalan Allah).

Halaman:

Editor: Swasto Dayanto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

Hak asasi manusia dalam Islam

Kamis, 1 Juni 2023 | 17:00 WIB

Membangun etos kerja dalam Islam

Kamis, 25 Mei 2023 | 17:00 WIB
X