Menantang Polisi

ilustrasi
ilustrasi

SIAPA berani mengumpat polisi dan mengancam dengan golok ? Apalagi itu dilakukan di Mapolresta Yogyakarta. Itulah yang dilakukan K yang tanpa takut memaki-maki polisi dan menggesek-gesekkan golok di pagar Polresta Yogya. Polisi yang berjaga di pos pun sigap membekuk K, meski sebelumnya diwarnai aksi kejar-kejaran.
Setelah berhasil ditangkap, K pun diinterogasi petugas. Namun agaknya bicaranya tidak nyambung karena diduga kuat K mengalami gangguan jiwa.
Andai benar K mengalami gangguan jiwa maka kasus tak bisa diteruskan. Ini didasarkan Pasal 44 KUHP bahwa orang yang mengalami gangguan jiwa tak dapat dimintai pertanggungjawaban hukum. Lantas, apakah polisi akan melepas K ? Secara hukum memang demikian. Namun dari aspek keamanan tentu sangat membahayakan. Sebab, bila dilepas justru akan membahayakan masyarakat. Apalagi pelaku membawa senjata tajam. Polisi bertugas menjaga kamtibmas. Dengan begitu, agar kamtibmas tetap kondusif, polisi harus mengupayakan agar K tidak bikin onar dan membahayakan masyarakat.
Langkah paling tepat adalah menyerahkan K kepada Dinas Sosial, karena institusi inilah yang punya kewenangan menangani masalah-masalah sosial, termasuk orang gila agar tidak berkeliaran di jalan. Pertanyaannya, mengapa bisa berkeliaran di jalan, bahkan mendatangi kantor polisi sembari mengancam dengan senjata tajam?
Dari peristiwa itu saja sudah terlihat ada yang tidak beres dalam diri K. Dalam peribahasa Jawa dikenal dengan istilah ‘ula marani gebuk’. Sudah jelas kantor polisi tempatnya penegak hukum kok berani datang melawan dengan senjata tajam. Nah pasti ada yang tidak beres dengan orang itu.
Untung yang didatangi K kantor polisi, bagaimana jika ia mendatangi sekolah ? Tentu bukan saja geger, malah bisa menimbulkan korban karena pelaku membawa golok yang sudah terhunus.
Ini bukan sekadar masalah hukum, tapi juga sosial. Siapa keluarga K ? Mengapa keluarga membiarkan K berkeliaran di jalan ?
Bisa jadi keluarganya sudah tak mau mengurusi lantaran biayanya mahal. Apalagi kalau harus berobat, butuh biaya yang tidak ringan. Padahal, pemerintah daerah sudah punya program pengentasan kemiskinan serta berobat gratis bagi mereka yang tidak mampu secara ekonomi. Mengapa K terlewatkan sehingga menggelandang di jalan dan membahayakan masyarakat ? (Hudono)

Read previous post:
ANTON FIRMANTO TOREHKAN PRESTASI NASIONAL- Wachyu Tri Budi Jabat Kapolres Sleman

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Sleman menggelar acara perpisahan Kapolres Sleman, AKBP Anton Firmanto SH SIK MSi, Jumat (11/6) di

Close