Pembunuh Darah Dingin

ilustrasi
ilustrasi

KASUS pembunuhan dengan pelaku Nurma Andika Fauzy (22) alias Dika, warga Tawangsari Kulonprogo sangatlah fenomenal. Selain pembunuhan itu berantai, korbannya tak hanya satu orang, bahkan nyaris empat orang, untung dua orang di antaranya selamat.
Lebih menarik lagi, Dika membunuh karena ingin memiliki harta korbannya. Ya, membunuh hanyalah sarana atau alat untuk mencapai tujuan. Mengapa hanya ingin menguasai harta korban, Dika harus membunuh ? Terlihat bahwa Dika adalah pembunuh berdarah dingin. Setelah menghabisi Dessy di wisma Sermo, pelaku menghabisi Takdir Sunaryati alias Dadik di tempat wisata Pantai Glagah.
Tak hanya itu, dua perempuan kenalan Dika juga hendak dieksekusi namun gagal. R yang sebelumnya diberi makan soto berisi oplosan obat sakit kepala selamat lantaran tidak mengalami sakit parah dan sadar. Seorang lagi, C, selamat karena ditelepon ibunya untuk pulang. Padahal saat itu Dika berhasil membawa C jalan-jalan dan akan diajak ke tempat sepi. Sang ibu punya perasaan tak enak sehingga terus menghubungi C hingga akhirnya selamat. Kepedulian ibu telah menyelamatkan nyawa sang anak. Andai saat itu sang ibu tak menelepon, entah bagaimana nasib C yang sudah berada dalam kekuasaan Dika.
Kini fokus tertuju pada Dika yang boleh dibilang sangat kejam dan pantas disebut sebagai pembunuh berdarah dingin. Ia tega menghabisi nyawa temannya hanya ingin menguasai harta kekayaannya. Tapi mengapa harus membunuh ?
Boleh jadi Dika mengalami kelainan jiwa atau psikopat. Tapi semua akan terungkap setelah ada pemeriksaan lengkap, terutama aspek kejiwaan pelaku. Meski begitu, kondisi tersebut tak bisa menjadi alasan pemaaf maupun pembenar perbuatan. Artinya, Dika tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Bahkan, bukan tidak mungkin yang bersangkutan dijerat pasal pembunuhan, bukan hanya pencurian dengan modus membunuh korbannya. Bedanya, yang disebut pertama, dari awal sudah ada maksud pelaku untuk menghilangkan nyawa korban, sedang yang kedua pembunuhan itu hanyalah cara untuk mendapatkan barang korban.
Penilaian itu sepenuhnya menjadi kewenangan hakim. Namun polisi maupun jaksa bisa menggunakan pasal berlapis, menjerat dengan sebanyak-banyak pasal yang relevan. Soal pasal mana yang tepat diterapkan sepenuhnya kewenangan hakim. (Hudono)

Read previous post:
PSIM ATASI BARITO PUTERA 3-2 – Seto: Seharusnya Bisa Cetak Gol Lagi

YOGYA (HARIAN MERAPI) - Persiapan PSIM Yogyakarta menghadapi kompetisi Liga 2 cukup memuaskan. Dalam lima kali uji coba, skuad besutan

Close