Akibat Tak Dilayani Istri

ilustrasi
ilustrasi

RASANYA tak masuk akal, bagaimana mungkin seorang ayah tega memperkosa dan membunuh putri kandungnya yang notabene darah dagingnya sendiri ? Namun itulah yang terjadi di Kaliwungu Kudus baru-baru ini. Seorang ayah, S (51) tega melakukan hal itu. Ia merudapaksa putrinya yang masih duduk di kelas XI madrasah aliyah. Lantaran sang putri berontak, S naik pitam dan melakukan kekerasan hingga sang putri meregang nyawa.
Peristiwa di atas sungguh-sungguh terjadi, bukan cerita bualan. Mengapa S tega berbuat sekeji itu pada putrinya ? Jawabannya sungguh mengagetkan. Saat diinterogasi petugas, ia mengaku sudah sebulan tidak dilayani istrinya. Hingga suatu hari ia memaksa putrinya berhubungan badan. Di waktu berikutnya S mengulangi perbuatannya, namun putrinya melawan hingga berujung penganiayaan dan berakhir kematian.
Melihat putrinya meninggal, S mencari akal untuk mengelabui petugas, yakni dengan menyayat nadi tangan kiri anaknya kemudian mengambil tali dan diletakkan di badan korban. Tujuannya tak lain agar orang mengira korban mati karena bunuh diri. Tapi akal-akalan ini dengan mudah dibongkar polisi. S pun harus mempertangungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Ia terancam hukuman 15 tahun penjara karena telah melakukan perkosaan dan penganiayaan yang berakibat putrinya meninggal sebagaimana diatur UU Perlindungan Anak.
Perbuatan S sungguh-sungguh sangat kejam. Hanya karena tidak dilayani istri lantaran sedang berpuasa, putrinya menjadi sasaran. Mengapa anak jadi sasaran pemuas nafsu birahi sang ayah ? Sungguh kebiadaban yang setara, bahkan lebih kejam dari binatang. S menghargai nafsu sahwatnya sebanding dengan nyawa putrinya, sungguh tidak sebanding.
Perbuatan S bukan saja wajib dikutuk, tapi juga harus diganjar dengan hukuman yang berat. Ia tak bisa dijadikan figur orang tua. Atau, jangan-jangan S mengalami kelainan seksual ? Apapun itu, tindakan S tak dapat ditoleransi. Bahkan, sama sekali tidak ada alasan pembenar maupun pemaaf atas perbuatannya.
Dengan memenjarakan S memang tidak serta merta menyelesaikan masalah. Apalagi bila ia tulang punggung keluarga, maka dipastikan penghasilan keluarga akan menurun. Tapi tentu jauh lebih berbahaya bila S tetap berada di rumah, karena masih ada beberapa anak yang tinggal di tempat itu. Dikhawatirkan ia memangsa anaknya lagi. Jadi, tempat yang paling cocok bagi S adalah penjara. (Hudono)

Read previous post:
Pemkab Sleman Peringati Hari Buruh Internasional 2021

SLEMAN (MERAPI) - Pemerintah Kabupaten Sleman bersama unsur pengusaha dan unsur pekerja dalam lembaga kerjasama Tripartit menyelenggarakan Peringatan Puncak Hari

Close