Gelombang II Covid-19

ilustrasi
ilustrasi

SEJUMLAH negara tengah menghadapi ledakan gelombang kedua Covid-19, seperti India, Malaysia, Singapura, Jepang dan sejumlah negara Eropa. Beberapa pemimpin negara tak menyangka bila Covid-19 bakal menyerang lagi dengan intensitas yang tinggi dan lebih berbahaya, menyusul beberapa varian baru yang telah menyerang sejumlah negara, termasuk Indonesia. Bahkan beberapa negara kembali memberlakukan lockdown karena masifnya penyebaran Covid-19. Bagaimana dengan Indonesia ?

Inilah yang sedang diwaspadai. Indonesia mulai mengantisipasi kemungkinan ledakan kasus Covid-19, antara lain dengan mengeluarkan kebijakan larangan mudik. Sayangnya, terkait hal itu, warga banyak yang melanggar. Mereka mencari jalur tikus demi bisa pulang kampung. Kekhawatiran pemudik membawa virus Corona sepertinya diabaikan. Mereka hanya berpikir demi kepentingan diri sendiri, yang penting bisa bertemu keluarga. Soal apakah keluarga akan tertular Covid-19 atau tidak sepertinya diabaikan. Padahal, sudah banyak kasus, pemudik pulang kampung dan menulari anggota keluarganya, bahkan sampai ada yang meninggal. Sementara yang bersangkutan merasa tidak sakit karena tidak bergejala atau OTG.

Justru inilah bahayanya. Orang yang merasa sehat, padahal sudah terpapar Covid-19 kemudian berkumpul dengan anggota keluarga, potensial menyebarkan virus. Dia sendiri tidak merasa bermasalah karena imunnya kuat, sedang orang lain lemah sehingga mudah tertular. Bukankah ini justru mencelakakan orang lain ? Kiranya pengalaman menjadi guru terbaik. Jangan sampai terulang, pulang kampung hanya menabar virus kepada keluarga.

Karena itulah Pemda DIY telah mengantisipasi para pemudik yang lolos penyekatan petugas. Mereka diwajibkan melakukan karantina mandiri selama lima hari, meski hasil swab menyatakan sehat atau negatif. Hanya saja, siapa yang mengawasi itu semua ? Idealnya, setiap satgas di kelurahan menjalankan fungsinya secara optimal sebagaimana dikehendaki dalam Surat Edaran Gubernur DIY tentang mudik lokal. Mudik lokal diperbolehkan asalkan tidak menginap dan tetap menjaga protokol kesehatan.

Mereka yang hendak bersilaturahmi ke tetangga maupun kerabat juga diwajibkan menjalani swab, baik PCR maupun antigen/GeNose. Aturan ini tentu sangat baik dan hati-hati, dengan tujuan mencegah penyebaran Covid-19. Bila Satgas di tingkat kelurahan maupun RT/RW menjalankan fungsinya secara optimal, niscaya tak ada yang perlu dikhawatirkan. Sayangnya, personel Satgas sangat terbatas. Terlebih mereka juga tak bisa bertindak kaku, apalagi terhadap warganya sendiri. Budaya ewuh pakewuh masih kuat dalam kehidupan masyarakat, sehingga banyak yang lolos pengawasan. (Hudono)

Read previous post:
Pascalibur Lebaran, Pemda DIY Diminta Antisipasi Lonjakan Kasus Covid-19

Close