Salah Orang Tua

Ilustrasi

KALAU ada remaja umur 16 tahun mengemudi mobil dan menabrak polisi ketika dicegat, siapa yang salah ? Kebanyakan orang akan menyalahkan anak tersebut. Padahal peristiwa itu ada rentetannya. Artinya, tak bisa kesalahan hanya ditimpakan pada anak tersebut.
Beberapa hari lalu jagat medsos diramaikan dengan peristiwa seorang remaja yang menerabas penyekatan polisi di Pos Prambanan-Klaten. Tak hanya itu, ketika dihentikan dan hendak diperiksa, sang sopir justru tancap gas dan menabrak polisi hingga terpental namun akhirnya bangkit lagi. Peristiwa tersebut membuat geram para netizen hingga viral di media sosial. Tapi beberapa saat kemudian sopir yang ternyata seorang remaja itu berhasil diamankan.
Dari sinilah kemudian muncul kontroversi karena pengejaran dan pengamanan sopir itu mirip dengan penanganan teroris, dengan mengerahkan beberapa personel Brimob bersenjata lengkap. Sebenarnya, kalau hanya menangkap remaja yang nekat menerabas penyekatan tak perlu mengerahkan pasukan atau polisi elite, cukuplah polisi biasa yang bertugas di lapangan, yang cukup mengejar dengan motor. Apalagi plat mobil sudah diketahui, sehingga pelaku takkan lolos.
Entah bagaimana kelanjutan kasus ini. Siapa remaja 16 tahun yang berbuat senekat itu ? Anak pejabat atau orang terpandang ? Jawaban atas pertanyaan itu bisa saja menimbulkan spekulasi dalam penegakan hukumnya. Bila ia anak pejabat atau orang berpengaruh di negeri ini, bisa jadi akan sangat mempengaruhi proses hukumnya nanti. Apalagi pelaku masih di bawah umur, sangat dimungkinkan lepas atau hanya wajib lapor.
Padahal, siapapun tahu, semua orang bersamaan kedudukan dalam hukum dan pemerintahan. Artinya tidak ada diskriminasi dalam penerapan hukum atau sering diistilahkan equality before the law. Hanya saja dalam praktiknya masih terjadi ketimpangan. Maka sering muncul istilah hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas.
Kembali pada kasus di atas, polisi perlu menelisik siapa orang tua remaja yang nekat menerabas pos penyekatan polisi. Mengapa orang tua mengizinkan anaknya membawa mobil sementara yang bersangkutan belum memiliki SIM ? Bukankah ini sebagai tindakan pembiaran ? Jadi, orang tua tetap harus dimintai pertanggungjawaban, siapapun dia, entah pejabat negara atau orang biasa.
Kalau tindakan tersebut dibiarkan, bisa menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum, khususnya dalam penegakan aturan lalu lintas. (Hudono)

Read previous post:
Ganjar: Tutup Objek Wisata yag Abaikan Keselamatan Pengunjung

SEMARANG (MERAPI) - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menegaskan, objek wisata yang mengabaikan keselamatan para pengunjung akan ditutup dan dicabut

Close