Tragedi Lontong Sate

SUNGGUH tega orang yang telah menaburkan racun di makanan takjil lontong sate yang disantap seorang bocah tak berdosa, Naba Faiz Prasetya (10) warga Sewon Bantul. Siswa kelas IV SD Muhammadiyah Karangkajen 4 itu meninggal beberapa saat setelah menyantap lontong sate yang berasal dari perempuan misterius. Singkat cerita, si perempuan misterius itu meminta ayah Naba yang notabene pengemudi ojol, Bandiman, mengirim paket takjil lontong sate ke rumah seseorang bernama Tomi. Namun ketika dibel orang bernama Tomi itu sedang berada di luar kota dan meminta agar diantarkan ke rumah. Istri Tomi yang berada di rumah menolak paket tersebut karena tak pernah memesannya, kemudian paket itu diserahkan kepada Bandiman.
Dari sinilah petaka dimulai. Bandiman membagikan lontong sate itu kepada istri dan anaknya. Sang istri langsung muntah dan terselamatkan setelah dibawa ke rumah sakit. Sedang Naba tak tertolong dan meninggal sebelum sampai rumah sakit. Hasil laboratorium menyebut racun di lontong sate itu lebih keras ketimbang apotas.
Kematian Naba sungguh tragis, karena ia sebenarnya bukan target si penabur racun. Si penabur mengincar Tomi yang disebut-sebut sebagai penegak hukum, namun meleset karena yang bersangkutan di luar kota. Andai istri Tomi yang menerima paket tersebut tidak mengembalikannya ke Bandiman, mungkin tragedi itu tak terjadi. Misalnya, karena merasa tidak pesan, kemudian membuang paket lontong sate itu ke keranjang sampah. Namun, agaknya semua sudah digariskan Sang Ilahi. Naba diambil keharibaanNya melalui cara seperti itu.
Kasus ini harus diusut tuntas. Indikasinya sangat kuat, tragedi lontong sate beracun ini masuk kategori pembunuhan, meski salah sasaran. Polisi harus melacak wanita misterius yang mengirimkan paket lontong sate melalui Bandiman. Meski sekilas, Bandiman mungkin masih hapal wajah perempuan tersebut sehingga bisa menjadi bahan atau petunjuk untuk memburu pelaku.
Kasus semacam ini baru pertama kali terjadi di Yogya. Masyarakat harus waspada jangan asal menerima sembarang paketan, harus jelas siapa pengirimnya. Lebih dari itu, bila kiriman itu berbentuk makanan atau minuman harus ekstra hati-hati.
Teliti dulu sebelum menerima, jangan-jangan kiriman itu berisi racun untuk membunuh si penerima paket. Bukannya selalu curiga pada kiriman, melainkan lebih ditujukan pada sikap untuk waspada. (Hudono)

Read previous post:
SAPMA Pemuda Pancasila Bagikan Takjil

BANTUL (MERAPI) - Pengurus Cabang Satuan Siswa Pelajar dan Mahasiswa Pemuda (SAPMA) Pemuda Pancasila Kabupaten Bantul mengadakan kegiatan berbagi takjil

Close