Tak Pilih Korban

ilustrasi
ilustrasi

PERAMPOK biasanya akan beraksi ketika calon korbannya lengah. Misalnya korban sendirian dan suasana lingkungan sekitar sepi. Ini kesempatan bagi penjahat untuk beraksi. Itulah yang dialami penunggu dan penjual2 warung borjo di Jalan Gambiranom Sinduharjo Ngaglik Sleman Jumat pekan lalu menjelang sahur atau sekitar pukul 02.15. Tiba-tiba ia didatangi laki-laki yang awalnya berlagak sebagai pembeli. Mengetahui suasana sepi, pelaku langsung menodongkan senjata tajam ke arah penjaga warung Ahmad Fauzi (20). Lantaran ketakutan korban menyerahkan uang Rp 800 ribu berserta 1 buah HP. Setelah itu pelaku langsung kabur.
Barulah usai kejadian korban melapor ke polisi. Saat beraksi pelaku diketahui masih memakai helm dan masker. Mungkin itu dimaksudkan agar identitasnya tidak diketahui. Meski demikian, ada rekaman CCTV di sekitar lokasi sehingga diharapkan bisa menjadi petunjuk bagi polisi untuk melacaknya.
Mengapa Ahmad Fauzi tidak melawan, padahal pelaku hanya sendirian ? Mungkin ia sudah berhitung bila melawan bisa berakibat fatal, misalnya dilukai dan sebagainya. Daripada nyawa jadi terancam, lebih baik hilang uang dan HP yang nilainya tidak sebanding dengan nyawa. Uang bisa dicar, sedang nyawa tak bisa kembali.
Tapi bila punya kemampuan bela diri, tak ada salahnya melawan pelaku yang hanya seorang diri. Lantaran pelaku bawa senjata tajam, korban bisa mengimbanginya dengan benda apapun yang tersedia di warung, misalnya kayu atau bambu yang panjangnya melampaui senjata tajam yang dibawa pelaku.
Intinya, kalau hendak melawan harus betul-betul mantap alias tidak ragu. Korban pun tetap harus berteriak untuk mengundang perhatian warga. Sebab, sesepi-sepinya tempat, tetap ada orang yang berlalu lalang. Terlebih, suara teriakan akan menciutkan nyali pelaku. Namun bila korban ragu, lebih baik menuruti kemauan pelaku untuk menyerahkan uang dan HP daripada malah nyawanya terancam.
Pada masa pandemi Covid-19 agaknya angka kriminalitas tak juga menurun, malah meningkat. Demi mendapatkan uang, penjahat nekat merampok atau mencuri apa saja yang bisa menghasilkan uang. Penjahat juga tidak pilih-pilih korbannya, mau penjual burjo atau penjual cilok atau penjual apa saja, bisa jadi sasaran.
Untuk mengantisipasinya tentu harus selalu waspada. Kalau warung buka 24 jam, mau tak mau penjaganya harus ditambah, jangan hanya satu orang. Bila tak cukup tenaga, maka warung jangan buka 24 jam karena rawan jadi sasaran penjahat. (Hudono)

Read previous post:
Eks-Menristekdikti: Kuliah Online Jangan Ditinggalkan

SURABAYA (HARIAN MERAPI) - Seluruh perguruan tinggi saat ini mulai mempersiapkan skema untuk melaksanakan kuliah tatap muka terbatas. Hal ini

Close