Bahaya Petasan

SEPERTINYA lazim petasan mewarnai bulan Ramadan. Bahkan di daerah tertentu petasan sudah menjadi budaya masyarakat. Mungkin mereka beranggapan Ramadan hambar tampa petasan. Padahal, di balik itu menyimpan potensi bahaya yang sangat besar. Sekadar menyebut contoh paling aktual, di Pundong Bantul 3 bocah mengalami luka-luka setelah membakar bubuk bahan mercon. Mereka tak mengira obat mercon tersebut membakar tubuh, dua diantaranya dirawat jalan, seorang lagi harus rawat inap karena lukanya sangat serius. Awalnya mereka membeli petasan di sekitar rumah, kemudian membukanya dan membakar isinya yangd berupa obat petasan.
Sudah terbukti, petasan banyak bikin celaka. Selalu saja ada peristiwa kecelakaan akibat menyulut petasan. Tak hanya itu, mereka yang memproduksi petasan juga tak luput bahaya. Karena itu sudah tepat bila petasan dilarang, baik produksi maupun peredarannya. Bahkan, pelaku dapat diancam UU Darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman pidana 10 tahun penjara.
Pertanyaannya, mengapa masih saja ada orang memproduksi petasan dan menyediakan bahan bakunya ? Sudah seharusnya polisi melacak dari mana anak-anak mendapat petasan. Kemudian, dari penjualnya polisi bisa menelusuri dari mana mereka mendapatkan barang tersebut, begitu seterusnya. Dengan cara itu, peredaran petasan akan berkurang atau paling tidak bisa meminimalkan peredaran mercon atau petasan.
Mungkin polisi tak serta merta menerapkan UU Darurat No 12 Tahun 1951, melainkan melalui pendekatan persuasif terlebih dulu. Barulah bila tetap ngeyel, polisi menerapkan tindakan tegas dengan menerapkan hukum.
Tapi harus diakui, dalam praktiknya polisi masih diskriminatif dalam memberlakukan aturan hukum. Misalnya, ketika berada di daerah yang masyarakatnya sangat bersahabat dengan mercon, polisi acap hanya mengambil tindakan antisipatif agar tidak ada korban. Sementara aktivitas menyulut petasan sepertinya dibiarkan. Sementara di daerah lainnya yang relatif masih sepi petasan, aparat terkesan bertindak lebih tegas.
Polisi memilih pasif ketika berada di daerah yang marak petasan tentu bukan tanpa alasan. Sebab bila ditindak tegas malah bisa menimbulkan persoalan baru. Lebih baik mengambil tindakan persuasif dan bertahap. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Komunitas Kiber berbagi takjil untuk masyarakat.
Kiber Berbagi di Tengah Pandemi

KOMUNITAS Kricak Bersatu (Kiber) kembali menggelar aksi sosial di tengah pandemi Covid-19 yang tak kunjung usai, sekaligus memberi warna dalam

Close