Klitih Tak Jera

ilustrasi
ilustrasi

Curhatan seorang ibu yang anaknya menjadi korban klitih di Jalan Ngeksigondo Kotagede Yogya yang viral beberapa hari lalu di medsos, layak mendapat perhatian serius. Sang ibu merasa ada yang tidak adil dalam penanganan kasus anaknya. Anak laki-lakinya yang masih berusia 15 tahun rahangnya patah, bibir sobek dan luka serius di bagian wajah akibat dilempar batako rombongan cah klitih. Sementara, pelaku yang sempat diamankan polisi, akhirnya tidak ditahan karena masih di bawah umur. Itulah yang membuat ibu korban merasa jengkel karena pelaku tidak diapa-apakan lantaran didampingi KPAI dan pengacaranya.
Kasus ini memang layak mendapat perhatian serius dari semua pihak. Bukan hanya dari sudut pelaku saja, tapi juga korban. Dalam hal ini, baik pelaku maupun korban sama-sama masih di bawah umur. Hanya saja, tentu bukan berarti pelaku dibiarkan bebas tanpa tersentuh hukum lantaran masih anak-anak. Bukankah kita punya lembaga pemasyarakatan khusus anak ? Nah, mereka yang dibina di tempat itu telah melalui proses hukum dan pemidanaan. Namun, dalam proses hukum, ancaman pidana yang bisa dijatuhkan kepada anak-anak maksimal separoh dari ancaman pidana orang dewasa.
Dalam proses peradilan pidana, penghukuman bukanlah manifestasi balas dendam. Artinya, anak yang dihukum karena melakukan tindak pidana tetap harus dilindungi masa depannya. Ia berhak memperbaiki diri dan meraih prestasi. Atas dasar itu barangkali KPAI dan pengacara pelaku mengingatkan kepada polisi untuk tetap melindungi hak anak, meski ia pelaku kejahatan.
Apakah dengan demikian anak-anak tidak boleh ditahan ? Inilah poin pentingnya. Penahanan sebenarnya dimaksudkan agar pelaku tidak mengulangi perbuatannya serta menghilangkan barang bukti. Sebenarnya anak bisa saja ditahan, sepanjang tidak dicampur dengan orang dewasa. Sayangnya tempat penahanan anak masih sangat terbatas dan kurang representatif.
Jika para klitih ini dimanjakan, antara lain tidak ditahan, hanya wajib lapor dan didatangkan orangtuanya, niscaya mereka tidak akan jera. Bahkan tak tertutup kemungkinan mereka mengulangi perbuatannya .
Curhatan ibu korban klitih sangat masuk akal. Sebab, anak-anak pun tetap dapat diproses hukum dengan memperhatikan UU Perlindungan Anak dan Sistem Peradilan Pidana Anak. Mereka juga dapat dijerat pasal pidana meski yang diancamkan hanya separoh dari ancaman pidana orang dewasa. (Hudono)

Read previous post:
Cerita Bergambar W.A.S.P

Close