Pelajar Saling Tantang

ilustrasi
ilustrasi

NAMANYA remaja, jiwanya masih labil, terkadang emosi meletup-letup. Akal sehat pun terkadang terabaikan, terkalahkan oleh emosi. Mungkin seperti itulah yang dialami DP (15) pelajar SMP warga Sedayu Bantul. Hatinya mendidih ketika ditantang temannya melalui video call. Singkat cerita, mereka pun janjian duel di tempat yang telah ditentukan. Namun sampai di tempat tujuan, lawan DP tidak nongol, kemudian DP yang diboncengkan temannya pulang. Saat melewati pasar Gamping itulah terjadi insiden, motor DP menabrak penjual sayur. Ketika DP jatuh, ketahuan ia membawa clurit besar yang kemudian oleh warga dilaporkan ke polisi.

Seandainya DP tidak menabrak penjual sayur, mungkin tidak ketahuan ia membawa clurit. Urusan pun menjadi panjang, karena DP tetap dijerat UU Darurat No 12 Tahun 1951 tentang kepemilikan senjata tajam. Hanya saja, karena dia masih anak-anak maka proses hukumnya menggunakan UU Sistem Peradilan Pidana Anak. Dalam pemeriksaan pun DP didampingi orang tua dan3 BAPAS.

Yang menarik, mengapa begitu gampangnya DP membawa senjata tajam clurit, hanya gara-gara ditantang temannya. Pada masa lalu, fenomena seperti ini sangat jarang terjadi, pelajar main bacok atau kekerasan. Boleh jadi ini pengaruh luar, baik itu internet maupun media sosial. Tapi kalau kondisi seperti ini dibiarkan dan seolah-olah pelajar bawa clurit sebagai hal biasa, maka tunggulah kehancurannya.
Orang tua DP agaknya abai mengawasi anaknya. Terbukti orang tua tidak mengetahui anaknya membawa senjata mematikan itu, apalagi akan digunakan untuk membacok. Kiranya tak berlebihan bila ada mekanisme penjatuhan sanksi bagi orang tua yang mengabaikan anaknya, apalagi membiarkannya berkeliaran di jalan sembari membawa senjata tajam.

Bisa dibayangkan bila perilaku DP ditiru teman-temannya, niscaya jalanan akan dipenuhi pelajar yang membawa senjata tajam. Hanya masalah tantang-menantang saja bisa berakibat fatal, bahkan berpotensi menimbulkan pertumpahan darah.
Berkaitan itulah polisi dibantu guru atau petugas di sekolah harus rutin menggelar razia senjata tajam di sekolah. Bahkan sekali razia bisa mendapatkan banyak hal, misalnya narkoba maupun produk pornografi.
Anak adalah aset berharga yang harus diselamatkan. Jangan biarkan mereka liar atau berkeliaran di jalanan sambil membawa senjata tajam. Mumpung belum terlambat, antisipasi harus dilakukan segera. (Hudono)

Read previous post:
#EmpowerYouth4Food Siapkan Hadiah 5.000 Euro Bagi Mahasiswa Pembuat Perubahan Bidang Pertanian

Close