Membunuh Karena Jengkel

ilustrasi
ilustrasi

PEMBUNUHAN sadis terjadi di Banguntapan Bantul Rabu dini hari pekan lalu. Pelakunya adalah NK (22) asal Samarinda yang tinggal di Tamanan Banguntapan Bantul, sedang korbannya adalah mantan bos pelaku yang bergerak di bisnis perabot rumah tangga, Budiyantoro (38), warga Grojokan Banguntapan Bantul. Korban dijerat lehernya dengan kawat, hingga menemui ajal saat mengemudi mobil yang ditumpangi korban.
Mengapa NK tega berbuat seperti itu pada mantan bosnya ? Saat diinterogasi NK mengaku kesal karena dituduh menggoda istri Budiyanto. Katanya, bosnya juga sering mengancam membunuh korban.
Pengakuan pelaku tentu bisa menjadi bahan polisi untuk mengembangkan kasusnya, termasuk mencari motif pembunuhan yang sebenarnya. Meski begitu, rasanya tidak terlalu sulit bagi aparat kepolisian untuk mengkualifikasikan perbuatan pelaku sebagai pembunuhan berencana sebagaimana diatur Pasal 340 KUHP. Ancaman pidana tersebut tidak main-main, yakni 20 tahun penjara atau pidana mati.
Indikasi perencanaan terlihat dari tindakan pelaku yang telah melakukan persiapan terlebih dulu, yakni dengan menyiapkan tali kawat untuk menjerat leher korbannya. Padahal, masih cukup waktu bagi pelaku untuk mengurungkan niatnya, namun hal itu tidak ia lakukan, karena sudah menjadi tekadnya untuk menghabisi nyawa mantan bosnya.
Rasanya memang tidak seimbang antara tindakan korban dan aksi balasan pelaku. Kalaupun benar korban menuduh pelaku menggoda istrinya, tentu tak sebanding bila dibalas dengan menghabisi nyawa. Toh bisa dijelaskan bahwa antara pelaku dan istri korban ada hubungan famili, yakni saudara sepupu sebagaimana pengakuan pelaku. Lebih dari itu, bila mantan bosnya itu mengancam membunuh, bukankah NK bisa melaporkannya ke polisi ?
Namun semua sudah terjadi dan tak bisa lagi diperbaiki. Nyawa Budiyanto telanjur melayang dan NK harus mempertanggungjawabkannya di depan hukum. Jaksa bisa saja menuntut hukuman mati kepada NK seperti diatur Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Tapi semua putusan tergantung majelis hakim nanti yang menyidangkan perkara tersebut. Soal ada tidaknya faktor yang meringankan pun sepenuhnya menjadi kewenangan majelis hakim. Bila pelaku tidak menyesali perbuatannya, bahkan merasa benar atas tindakannya, biasanya hakim akan menjatuhkan putusan yang lebih berat . (Hudono)

Read previous post:
MISTERI PRAJA CIHNA, SIMBOL KERATON NGAYOGYAKARTA HADININGRAT (2) – Simbol yang Sarat Akan Makna Serta Filosofi

Keraton Kasunanan Surakarta misalnya, memiliki lambang yang dikenal dengan nama Radya Laksana. Menurut buku Baoesastra Djawa, artinya : tanda kerajaan

Close