Pelecehan Fisik

ilustrasi
ilustrasi

PELECEHAN bisa dilakukan secara verbal (kata-kata) maupun fisik. Semua bisa berdampak hukum bila orang yang dilecehkan tidak terima dan lapor polisi. Pelecehan secara fisik ini pun bentuknya bermacam-macam, terutama yang berkaitan dengan nafsu birahi. Dan biasanya itu dilakukan oleh laki-laki kepada perempuan. Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari megang-megang, meraba-raba hingga tindakam ekstrem pencabulan.
Seorang perempuan muda, W (23) merasa dilecehkan oleh temannya, AG (25) warga Parakan Sidomulyo Pengasih Kulonprogo. Entah bagaimana awalnya, tiba-tiba W yang sedang duduk di motor menunggu suaminya dari toilet, dipeluk dari belakang oleh AG hingga menyentuh payudara. Peristiwa tersebut terjadi di pinggir jalan wilayah Pendem Sidomulyo beberapa hari lalu. Karuan W merasa malu dan memperkarakan perbuatan AG ke polisi.
Perbuatan AG tergolong kelewatan, apalagi dilakukan di tempat umum. Lantas, apakah kalau dilakukan di tempat khusus diperbolehkan ? Tidak juga, dan tergantung kasusnya. Unsur di tempat umum ini penting ditegaskan untuk mengkualifikasikan tindak pidananya. Ini berkaitan dengan sangkaan Pasal 281 KUHP tentang merusak kesusilaan di depan umum. Pinggir jalan di wilayah Pendem Sidomulyo jelas tempat umum sehingga masuk unsur Pasal 281 KUHP.
Selanjutnya, apakah perbuatan AG yang memeluk dan memegang atau bahkan meraba payudara korban masuk kategori delik aduan ? Jawabnya delik biasa bukan aduan. Artinya, sekalipun korban tidak mengadu, kasus harus jalan terus, dan tak ada celah untuk berkompromi karena peristiwa terjadi di tempat umum.
Berkaitan kasus di atas, AG harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Ia bakal dijerat Pasal 281 KUHP atas sangkaan melakukan pelecehan seks atau tepatnya merusak kesusilaan di depan umum. Mungkin saat kejadian saksinya hanyalah korban seperti lazimnya dalam kasus kesusilaan.
Sementara bagi korban, kejadian tersebut juga bisa menjadi pelajaran agar tidak begitu mudah memenuhi permintaan teman atau pelaku untuk tujuan yang tidak jelas. Padahal, saat kejadian, korban ditemani suami yang saat itu sedang ke toilet. Ada suami korban saja pelaku berani berbuat macam-macam, apalagi tidak ada suami. Pelecehan seksual, apapun bentuknya, tak bisa ditolerir. (Hudono)

Read previous post:
Kopi vs Boba, Kuliner Mania Yogya Pilih Mana?

Close