Polisi Gadungan Memeras

ilustrasi
ilustrasi

KALAU ada seorang polisi tiba-tiba meminta uang kepada pemilik konter HP dengan alasan HP yang dibelinya rusak, haruslah waspada. Apalagi polisi tersebut tidak membeli HP di konter tersebut. Pasti itu bukan polisi beneran, tapi gadungan. Peristiwa itu dialami Wardoyo (37) pemilik konter di kawasan Goa Kiskendo Girimulyo Kulonprogo. Beberapa hari lalu ia menerima WA dari seseorang yang mengaku bernama FA perwira polisi berpangkat AKBP. Orang tersebut meminta Wardoyo mengirim uang Rp 1 juta ke pelaku, bila menolak akan dicari terus di manapun berada.
Lantaran ketakutan Wardoyo pun melapor ke polisi beneran. Kasus ini masih dalam penyelidikan aparat. Di masa pandemi seperti sekarang ini, kejahatan melalui pesan singkat maupun WA marak di masyarakat. Modusnya beragam, mulai dari iming-iming hadiah hingga meminta uang dengan ancaman seperti yang dialami Wardoyo.
Menghadapi kejahatan menggunakan medsos ini, masyarakat harus waspada dan jangan gampang percaya pada omongan orang yang belum dikenalnya. Kalau ada orang mengaku anggota kepolisian, apalagi berpangkat AKBP, tentu mudah untuk dicek. Jangan sungkan-sungkan untuk mengecek ke kantor polisi apakah benar ada nama yang disebut oleh pelaku. Dari situ akan ketahuan kebohongan pelaku.
Karena itu jangan dulu memenuhi permintaan pelaku sebelum mengeceknya. Sudah menjadi modus pelaku untuk menggertak calon korbannya sehingga panik dan tak bisa berpikir jernih. Dalam kondisi panik itulah jurus pelaku akan efektif dan berhasil memperdaya korban. Cek dan recek adalah cara paling jitu agar terhindar dari penipuan seperti itu.
Mana ada polisi pangkat AKBP meminta uang kepada pemilik konter HP dengan dalih HP-nya rusak dan minta ganti ? Padahal ia bukan pembeli HP di konter tersebut. Dari peristiwa itu saja sudah terlihat akal bulus pelaku yang mengaku-aku sebagai polisi.
Penipuan dengan modus mengaku-aku sebagai anggota polisi agaknya perlu mendapat perhatian serius. Mengapa pelaku kejahatan memilih modus mengaku sebagai polisi ? Apakah dengan mengaku sebagai polisi lantas warga menjadi takut dan memenuhi segala permintaannya ? Tentu ini menjadi bahan renungan semua pihak. Sebab, polisi adalah pengayom masyarakat, bukan menakut-nakuti masyarakat. Kalau menakut-nakuti masyarakat, apalagi melakukan pemerasan, pasti itu bukan polisi beneran dan harus dilaporkan. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Prajurit Yon Mekanis 512/QY bantu beri layanan program Posbindu
Prajurit TNI BANTU Puskesmas Program Posbindu

Close