Ancaman Penagih Utang

ilustrasi
ilustrasi

PROFESI debt collector (DC) atau penagih utang sepertinya jamak di masyarakat kita. Namun, sejauh ini persepsi masyarakat terhadap profesi ini kurang baik, karena acap dikesankan dekat dengan kekerasan maupun ancaman kekerasan. Padahal, bila dirunut asal muasalnya, jasa penagihan utang ini tak dilarang dalam lapangan hukum perdata. Yakni atas perintah kreditur (pemberi utang) orang tersebut menagih utang atas nama kreditur, bukan atas nama diri sendiri.
Profesi DC menjadi kontroversial dan terkesan dekat dengan kekerasan lantaran ulah oknum yang menagih utang dengan cara kekerasan atau ancaman kekerasan. Seperti yang terjadi di Galur Kulonprogo beberapa hari lalu, seorang DC berinisal RF asal Jember Jatim ditangkap lantaran menagih utang pada seorang nasabah, Tri Emawati, warga Galur dengan cara mengancam menggunakan clurit. Karuan Tri ketakutan hingga mengangsur utangnya sendiri dan utang orang lain yang dititipkan kepadanya.
Meski sang DC berhasil menagih utang, namun kasusnya berbuntut. Pasalnya Tri yang masih trauma atas kejadian tersebut melapor ke polisi. Atas laporan Tri, polisi pun menindaklanjuti dan berhasil mengamankan RF yang juga tinggal di Galur. Pelaku kini harus mendekam di sel tahanan kepolisian setempat.
Yang menjadi persoalan tentu bukan karena RF menagih utang lantaran memang itu tugas DC, melainkan karena ia menggunakan ancaman kekerasan dalam menjalankan tugas. Aksi tersebut menjadi efektif, karena debitur bersedia mengangsur utangnya. Namun dampaknya bagi debitur luar biasa, karena ia menjadi ketakutan dan tak mau ke luar rumah.
Persoalan yang semula masuk ranah perdata pun bergeser ke pidana lantaran ada unsur kekerasan atau ancaman kekerasan. Artinya, menagih utang dengan cara kekerasan tidaklah dibenarkan hukum, sehingga pelakunya harus diproses.
Lantas bagaimana dengan sang kreditur atau orang yang memberi utang ? Sepanjang yang bersangkutan tidak menyuruh orang lain untuk melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, maka ia tak dapat dimintai pertanggungjawaban hukum, begitu sebaliknya.
Lantas, apakah dengan kejadian tersebut profesi DC dilarang ? Tentu tidak, tapi lebih baik para DC dibina sehingga lebih banyak menggunakan pendekatan humanis dan tidak main hakim sendiri. Imej bahwa DC identik dengan kekerasan, rasanya harus segera dihapus. Menagihkan utang orang lain pun dibolehkan, asal caranya sopan alias tidak arogan, apalagi melindungi diri sendiri. (Hudono)

Read previous post:
Mahasiswa Bioteknologi UKDW Berpartisipasi dalam Program Kampus Mengajar

YOGYA (MERAPI) -Program Kampus Mengajar merupakan bagian dari program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan dan

Close