Takut Hidup

ilustrasi
ilustrasi

PADA dasarnya orang yang membunuh diri sendiri sama saja takut hidup. Ya, ia berani mati namun takut untuk hidup. Padahal, hidup adalah karunia yang diberikan Tuhan yang harus disukuri. Bahwa dalam perjalanannya orang hidup penuh cobaan dan rintangan, justru menjadi tantangan yang penuh makna. Bisa diibaratkan sebagai seni untuk mengarungi bahtera kehidupan.
Namun ada yang diliputi rasa pesimis dan putus asa dalam mengarungi kehidupan. Baru diuji masalah kecil saja sudah tidak kuat iman dan memilih bunuh diri. Sungguh manusia yang rapuh, seperti tidak ada pegangan hidup. Dalam dua hari berturut-turut pekan lalu, kita dikejutkan dengan peristiwa anak muda yang ‘nglalu’ lantaran dibelit masalah. Yang pertama dilakukan seorang perempuan muda yang menenggak cairan pemutih di toilet sebuah minimarket kawasan Tegalrejo Yogya dan seorang lagi, pemuda yang berprofesi sebagai guru nekat loncat dari Jembatan Jambu, Danurejan Yogya. Untung keduanya bisa diselamatkan warga yang kebetulan memergokinya.
Korban kedua, yakni MF (24) warga Ringinharjo Bantul nekat loncat dari jembatan Jambu lantaran tidak mau dijodohkan oleh orang tuanya. Pasalnya, ia telah punya gadis pilihannya sendiri. Ya, diduga hanya karena masalah itu ia nekat hendak mengakhiri hidupnya. Sungguh sangat disayangkan bila seorang pemuda yang diharapkan menjadi panutan masyarakat itu memiliki pribadi yang rapuh dan tak tahan banting. Hanya masalah percintaan, seolah dunia mau kiamat.
Dengan peristiwa tersebut, MF mestinya bersukur masih diberi kesempatan untuk hidup. Bahwa soal dirinya telah dijodohkan oleh orang tua, tentu bisa diselesaikan secara baik-baik dengan musyawarah keluarga. Boleh jadi komunikasi yang dibangun MF dengan keluarganya, terutama orang tua, kurang baik, sehingga tidak harmonis. Komunikasi menjadi kurang sehat, akibatnya keputusan hanya ditentukan sepihak.
Adakah semua ini terkait dengan dampak pandemi Covid-19, ketika banyak orang depresi atau mengalami guncangan jiwa lantaran tak kuat menghadapi ujian hidup ? Jawabnya bisa ya bisa pula tidak. Mungkin butuh penelitian atau survei untuk mengetahui sejauh mana dampak pandemi terhadap kehidupan masyarakat. Ironisnya, pelakunya tidak didominasi kalangan tua, tapi malah orang muda.
Dengan kejadian tersebut, mungkin pemerintah perlu mengevaluasi program-program pemberdayaan pemuda dan perempuan apakah telah efektif atau sebaliknya. Pembinaan harus mengarah terwujudkan generasi muda yang tangguh dan tahan banting, bukan generasi yang rapuh. (Hudono)

Read previous post:
KOKAM Sleman akan Gelar Diklatsar

SLEMAN (MERAPI) - Peristiwa sejarah kelahiran KOKAM (Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah) sebagai sebuah panggilan sejarah untuk menjawab tantangan zaman

Close