Wasiat Pembuang Bayi

ilustrasi
ilustrasi

BUKAN sekali ini dalam kasus pembuangan bayi pelaku meninggalkan pesan atau wasiat yang isinya meminta kepada penemu untuk merawat baik-baik bayinya. Pun tak jarang pelaku meminta maaf karena tak bisa merawat bayinya lantaran pertimbangan berbagai hal, entah itu karena masalah ekonomi, rasa malu dan sebagainya. Intinya sama, mereka tak mau tanggung jawab atas bayinya.
Begitu pula dalam kasus pembuangan bayi di Maguwoharjo Depok Sleman Rabu pekan lalu. Warga digegerkan dengan penemuan mayat bayi perempuan terbungkus tas. Diduga bayi belum lama dilahirkan, dan hidup selama dua jam. Awalnya tas tersebut tergeletak di sebelah timur pertigaan Gang Semar Maguwoharjo Depok Sleman. Bahkan tas tersebut sempat ditendang-tendang oleh anak-anak yang kebetulan bermain di tempat itu. Namun mereka curiga dan membuka tas tersebut yang ternyata berisi mayat bayi. Kasus itu kemudian dilaporkan ke polisi.

Ya, bayi perempuan itu ditemukan sudah dalam keadaan meninggal. Diduga, saat dibuang bayi tersebut masih hidup, namun tidak segera mendapat pertolongan sehingga bayi meninggal. Diduga kuat pelaku pembuangan bayi itu adalah orangtua si bayi, karenanya meninggalkan surat wasiat yang isinya meminta kepada penemu untuk merawat bayi tersebut.
Wasiat dari pelaku kejahatan, dalam hal ini pembuang bayi, justru bisa menjadi petunjuk bagi polisi untuk mengungkap kasus tersebut. Diduga kuat pelaku adalah orangtua biologis si bayi. Permintaan maaf dari pelaku kepada bayi yang dibuang tidaklah memiliki pengaruh apapun dan tak bisa menjadi faktor pembenar atau pemaaf atas perbuatannya.

Pelaku tetap harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di depan hukum. Aparat penegak hukum bakal menerapkan UU Perlindungan Anak karena pelaku telah merampas hak hidupnya. Sebab, bayi punya hak hidup yang tidak dapat dikurangi sedikitpun oleh siapapun, termasuk orangtuanya sendiri.
Mungkin pelaku tidak mengira perbuatannya membuang bayi berakibat fatal yakni kematian. Pelaku mungkin menghendaki agar bayi ditemu orang dan dirawat baik-baik. Jadi, boleh jadi pelaku tidak bermaksud membunuh anaknya. Ini berbeda dengan kasus pembunuhan bayi atau anak, yakni dibunuh lebih dulu, baru mayatnya dibuang.

Meski begitu, dalam kasus di atas, pelaku patut menduga bila bayi ditelantarkan dalam waktu relatif lama, apalagi prematur, maka sangat rawan meninggal dunia. Dengan begitu, hakim nanti bisa memberatkan hukuman pelaku atas kecerobohannya. Lain halnya bila bayi dibuang atau ditinggal di rumah sakit, peluang untuk hidup tentu sangat besar, meski pelaku tetap diancam pidana pembuangan bayi. (Hudono)

Read previous post:
Cerita Bergambar W.A.S.P

Close