Terperdaya Investasi

Ilustrasi

BANYAK cara dilakukan orang untuk mendapatkan penghasilan, namun caranya berbeda, ada yang halal dan ada pula yang haram. Agaknya, Aris warga Cangkrep Lor Purworejo ini memilih cara yang kedua. Dengan memanfaatkan profesinya sebagai mantan karyawan provider wifi, ia berhasil memperdaya sejumlah korbannya di Kulonprogo. Tak tanggung-tanggung, nilainya mencapai ratusan juta rupiah. Aris berhasil dibekuk setelah polisi menyamar sebagai calon korbannya.

Lantas apa yang ditawarkan Aris sehingga banyak orang terperdaya ? Ia mengaku sebagai pengusaha sukses di bidang provider dan buah-buahan. Berbekal sebagai mantan karyawan provider wifi ia pun mengajak para calon korbannya menanamkan investasi di dua bidang usaha tersebut. Namun apa yang terjadi kemudian? Setelah uang disetor, janji Aris memberi keuntungan kepada penanam investasi pun tak terealisasi hingga mereka melapor ke polisi.

Dari laporan itulah polisi bergerak dengan menyamar sebagai calon korban yang hendak menanamkan investasi. Pelaku pun masuk perangkap dan segera diringkus. Saat diinterogasi, Aris mengaku berbuat drmikian karena terlilit utang ratusan juta rupiah. Entah itu utang kepada siapa. Atau, bisa saja pengakuan itu hanya bentuk akal-akalan Aris agar diringankan hukumannya nanti.
Modus yang dilancarkan Aris sebenarnya tergolong konvensional dan sudah sering terjadi. Ironisnya, kasus serupa terus berulang dan kebanyakan menimpa orang berduit dan intelek. Tak kurang Aris berhasil menggondol Rp 250 juta dari para korbannya. Apakah uang tersebut masih ada atau sudah dibelanjakan, tidak ada yang tahu kecuali Aris sendiri.

Inilah sebenarnya kelemahan hukum pidana yang tidak serta merta mampu memulihkan atau merehabilitasi kondisi korban. Benar bahwa polisi berhasil menangkap Aris dan nanti membawanya ke pengadilan. Aris nanti akan dijatuhi pidana berdasar sangkaan Pasal 372 dan 378 KUHP tentang penggelapan dan penipuan. Namun tak serta merta pengadilan mewajibkan uang hasil kejahatannya dikembalikan kepada korban. Paling-paling pengadilan hanya memutuskan bahwa uang hasil kejahatan itu disita oleh negara yang notabene tidak langsung kembali kepada korban.

Itupun kalau masih ada uangnya. Sebaliknya bila uangnya sudah habis dibelanjakan dan tidak ada yang tersisa, tentu kondisinya lebih memprihatinkan lagi karena korban tidak mendapatkan apa-apa. Untuk mendapatkan haknya korban masih harus menggugat perdata ke pengadilan. Besar peluang memenangkan perkara, namun tidak mendapatkan apa-apa karena sudah tidak ada uangnya. Kasus seperti ini sering disebut menang di atas kertas. (Hudono)

Read previous post:
Hutan Desa untuk Konservasi Lahan

TEMANGGUNG (MERAPI) - Pemerintah desa kawasan Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau di Kabupaten Temanggung didorong pemkab setempat membuat hutan desa

Close