Problem Pemuda Pengangguran

ilustrasi
ilustrasi

HIDUP makin susah, menuntut orang untuk kreatif agar bisa bertahan. Segala cara pun dilakukan demi mempertahankan hidup. Sayangnya, ada yang memilih jalan pintas, mendapat uang dengan gampang namun nyrempet bahaya. Risikonya pun berat, karena bisa masuk bui.
Dua pemuda warga Pringgokusuman Gedongtengen, yakni HP (18) dan AS (18) agaknya tak peduli dengan cara memperoleh uang, sehingga apapun dilakukan. Dua pemuda pengangguran itu memilih bisnis narkoba, yakni dengan menjual pil koplo yang mereka kemas dalam bentuk paketan. Mereka mengaku pil jenis Yurindo itu didapat dari DT di Prambanan.
Beberapa hari lalu, HP dan AS berhasil ditangkap petugas dengan beberapa barang bukti. Tapi itu tidaklah cukup. Yang tak kalah penting adalah mengungkap jaringan di balik bisnis mereka. Paling tidak polisi harus juga menangkap DT yang diaku sebagai pemasok barang haram itu kepada HP dan AS. Selanjutnya, masih perlu dilacak dari mana DT mendapatkan pil koplo, boleh jadi masih ada jaringan yang lebih besar.
Obat-obatan yang mereka jual masuk kategori daftar G, sehingga untuk mendapatkannya mestinya melalui prosedur yang ketat. Orang umum saja untuk mendapatkan obat tersebut harus dengan resep dokter.
Inilah yang harus diungkap polisi, yakni membongkar jaringan peredaran obat-obatan daftar G yang sering disebut sebagai pil koplo oleh kalangan pengguna, termasuk menyelidiki mengapa obat tersebut bisa sampai ke HP dan AS. Apakah ada oknum lembaga farmasi yang terlibat, atau malah ada oknum medis yang terlibat. Bila ada yang terlibat tentu sanksinya lebih berat ketimbang yang mengedarkan.
Bahwa kemudian HP dan AS mengatakan berbisnis narkoba untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, itu hanyalah dalih saja sebagai pembenaran. Seperti biasa, penjahat bila tertangkap akan mengatakan hal serupa. Padahal masih sangat banyak pekerjaan yang halal selain menjadi pengedar narkoba. Lantaran telah mendapat keuntungan yang besar dari bisnis narkoba, agaknya membuat mereka enggan untuk beralih ke bisnis lain yang halal.
Penjara atau lembaga pemasyarakatan adalah tempat yang paling pas buat mereka yang terlibat bisnis narkoba. Celakanya, dalam beberapa kasus, penjahat narkoba masih bisa mengakses barang-barang haram itu. Untuk itulah di setiap lembaga pemasyarakatan harus ada divisi yang secara khusus menangani warga binaan yang terlibat narkoba. Jangan sebaliknya malah terlibat dalam permainan bandar narkoba yang notabene menghasilkan uang berlimpah. (Hudono)

Read previous post:
3 PELAJAR JALANI REKONSTRUKSI AKSI PEMBACOKAN-Desak Polisi Tangkap Bos Gerombolan Klitih

Close