Belajar Ngutil di Internet

ilustrasi
ilustrasi

INTERNET bisa dimanfaatkan untuk kepentingan apa saja, baik yang bersifat positif maupun negatif. Tergantung orang yang menggunakannya. Bahkan ada orang belajar merakit bom dari internet melalui kanal Youtube. Namun ada pula yang sukses berbinis karena belajar dari internet. Jadi internet hanyalah alat, yang bersifat netral. Mau positif atau negatif tergantung pada orang yang memanfaatkannya.

Beberapa hari lalu jajaran kepolisian di Sleman meringkus komplotan pengutil dari kelompok Maluku yang beraksi di mal Sleman. Mereka mengutil pakaian bermerek dengan cara memasukkannya ke de dalam korset yan sudah dililitkan dalam badan. Namun salah seorang pelaku, WK (26) kepergok petugas mal saat memasukkan celana ke dalam korset. Dari situlah kemudian polisi berhasil membongkar jaringannya. Ternyata mereka spesialis pengutil di mal dengan sasaran pakaian bermerek.

Ketika diinterogasi, WK mengaku baru sekali ini mengutil dan belajar dari internet. Biasanya penjahat bila tertangkap akan mengaku baru pertama kali melakukan kejahatan, dengan harapan dimaafkan dan dibebaskan. Ini modus klasik yang tak semestinya langsung dipercaya. Boleh jadi selama ini WK telah mengutil di beberapa mal dan baru belakangan ini tertangkap. Artinya bukan sekali ini ia mengutil. Tapi yang bisa dipercaya, ia mengutil menggunakan sarana korset dan hal itu dipelajari dari internet mungkin ada benarnya. Pasalnya, orang mau belajar apa saja bisa dari internet.

Kejahatan yang dilakukan WK dan komplotannya sebenarnya tergolong konvensional dan mudah dilacak. Apalagi aksi mereka terekam CCTV. Namun, namanya saja penjahat, tetap akan mencari celah untuk melancarkan aksinya. Alhasil, WK kini kena batunya karena ketahuan petugas saat beraksi. Mereka tetap dijerat Pasal 263 KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dengan ancaman pidana paling lama 5 tahun.

Akhir-akhir ini komplotan pengutil sering bergentayangan di mal-mal dengan target mengutil pakaian bermerek. Diyakini, hasilnya dijual dengan harga miring. Nah, untuk menjual barang curiannya mereka pun bisa memanfaatkan media sosial seperti facebook, instagram dan sebagainya. Dalam hal ini media sosial hanyalah alat untuk melakukan kejahatan.

Meski begitu, bila pembelinya tidak hati-hati, bisa berurusan dengan polisi. Bila pembeli sudah mengetahui bahwa barang yang dibeli merupakan hasil kejahatan, maka si pembeli itu dapat dituduh melakukan kejahatan. Sedang bila ia sungguh-sungguh tidak tahu, ia harus mendapat perlindungan hukum. Karena itu, kalau ada orang jualan barang bermerek dengan harga sangat murah jauh dari standar harga pasar, patut diwaspadai. (Hudono)

Read previous post:
Genangan Banjir Mulai Surut, Bantuan Warga Tetap Dikirim

PATI (MERAPI) - Ketinggian kepungan air banjir di wilayah Pati selatan, mulai menurun. Menyusul minimnya curah hujan selama lima hari

Close