Korban Kejar Klitih

ilustrasi
ilustrasi

MASA pandemi Covid-19 tak membuat geng klitih tiarap. Mereka tetap eksis dan bikin ulah sehingga meresahkan masyarakat. Namun ketika masyarakat sudah turun tangan, mereka pun keder dan menyerah. Fenomena itulah yang kemarin mencuat ketika tiga orang anggota geng klitih bikin kisruh hendak melakukan balas dendam kepada anggota geng lain yang telah membacok anggotanya di Dusun Kaliberot Argomulyo Sedayu Bantul. Namun, seperti biasa, pelaku menyasar secara acak korbannya dengan dalih salah sasaran.

Tak disangka, korban Ismoyo yang diserang dengan lemparan botol berbalik arah dan mengejar pelaku. Aksi pengejaran ini membuahkan hasil setelah korban berteriak klitih sehingga warga sekitar ikut mengejar pelaku. Ketiga pelaku akhirnya berhasil diamankan dan ditahan di kantor polisi. Saat digeledah petugas mendapati senjata celurit. Mereka adalah OS (17) warga Tamantirto Kasihan Bantul, YP (22) warga Balecatur Gamping Sleman dan KB (22) warga Tlogoadi Mlati Sleman.

Bila kita cermati kasus-kasus klitih, pelaku nekat karena sebelumnya menenggak minuman keras. Begitu pula ketiga laki-laki tersebut sebelumnya menggelar pesta miras di rumah salah satu anggota geng klitih. Dari situlah kemudian muncul pembicaraan untuk melakukan balas dendam kepada geng lain yang telah menganiaya anggota mereka. Tapi, lagi-lagi mereka asal melampiaskan dendam, tanpa melihat siapa korbannya. Namun kali ini mereka apes karena korban melawan dan minta bantuan masyarakat.

Nyatanya, mereka tak berani berhadapan dengan masyarakat. Bila berani dipastikan akan remuk. Korban juga cerdik karena meminta bantuan masyarakat, apalagi dengan meneriakkan klitih. Di telinga masyarakat, klitih seolah benalu yang harus dibersihkan, sehingga mereka sangat bersemangat untuk melawan atau meringkusnya.
Ancaman pidana kepada pelaku cukup berat karena mereka kedapatan membawa celurit, sehingga dijerat UU Darurat No 12 Tahun 1951, meski senjata tersebut belum digunakan. Biasanya, ketika ditangkap pelaku akan mengatakan senjata tersebut untuk berjaga-jaga. Berjaga dari apa ? Dari serangan kelompok lain. Andai hal ini dibenarkan, niscaya akan banyak kelompok klitih yang membawa senjata tajam di jalanan. Karena itu, mereka tetap harus diproses hukum.

Masyarakat sebenarnya tak boleh main hakim sendiri. Tapi demi menjaga kamtibmas, masyarakat dapat melakukan tindak pencegahan atau bertindak seperlunya untuk mengamankan pelaku dan menyerahkan kepada polisi. (Hudono)

Read previous post:
Pedagang Lantai Dua Pasar Bendungan Mengeluh Sepi Pembeli

Close