Ngumpet di Rumah Istri Siri

ilustrasi
ilustrasi

PADA masa pandemi ini, semua orang maklum, tidak gampang mencari penghasilan. Bahkan, banyak orang kehilangan pekerjaan karena dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. Wajar bila kemudian muncul perasaan kecewa atas pemecatan tersebut. Apalagi, saat ini mencari pekerjaan sangatlah sulit. Bagi mereka yang putus asa alias lemah iman, bisa saja terjerumus pada perbuatan negatif.

Agaknya itulah yang terjadi pada diri RS (30), warga Gondokusuman Yogya yang sakit hati karena dipecat dari pekerjaannya. Ia pun punya pikiran neko-neko, yakni menggasak mobil dan perabot milik mantan majikannya, Mandala (23) asal Kuningan Jawa Barat yang berdomisili di Sinduadi Mlati Sleman. Usai mencuri mobil dan perabot berupa meja kursi, kayu dan tenda terpal milik majikannya, RS kabur dan bersembunyi di rumah istri sirinya, di Temanggung. Tapi akhirnya polisi berhasil mengendus keberadaannya hingga yang bersangkutan kembali harus masuk penjara. Sebab, sebelumnya RS adalah residivis.

Boleh jadi, RS memang punya bakat mencuri. Bahkan, sudah masuk penjara sekalipun, ia tidak kapok dan mengulangi perbuatannya. Setelah masuk penjara nanti, apakah yang bersangkutan insyaf ? Masih belum jelas, tergantung pada faktor internal dan eksternal. Internal terkait dengan kondisi pribadi yang bersangkutan, sedang eksternal terkait pada sistem di lembaga pemasyarakat di mana ia ditempatkan.

Harus diakui tidak semua lembaga pemasyarakatan punya fasilitas yang memadai dalam membina narapidana. Sehingga, hasil pembinaannya pun akan berbeda antara Lapas satu dengan lainnya. Meski demikian sudah ada standar baku dalam sistem pembinaan di lapas, sehingga efektif tidaknya tergantung pada pelaksana di lapangan.

RS mungkin merasa aman ketika bersembunyi di rumah istri sirinya. Ironisnya, sang istri siri tak tahu bila suaminya adalah pencuri, bahkan seorang residivis. Meski haknya untuk hidup bersama dengan RS, namun sebagai seorang istri siri seharusnya yang bersangkutan kritis siapa sesungguhnya RS, agar tidak ada penyesalan di kemudian hari. Sebab, salah-salah sang istri bisa terseret dalam kejahatan. Misalnya, bila yang bersangkutan mengetahui bahwa RS adalah pencuri atau penjahat namun diam saja, tidak melapor ke polisi, maka bisa dituduh membantu atau setidak-tidaknya membiarkan kejahatan terjadi. Ironisnya lagi, perkawinan secara siri tidak diakui negara, sehingga tidak mendapat perlindungan hukum. (Hudono)

Read previous post:
Ditanam di Pinggir Kolam, Gambas Lebih Subur

Close