Hamil Duluan

ilustrasi
ilustrasi

MESKI ada anjuran kepada ibu-ibu muda untuk tidak hamil pada masa pandemi Covid-19, namun agaknya banyak diabaikan. Bahkan, pada masa pandemi ini angka kehamilan meningkat, terutama di Jawa Tengah. Bahkan kasus pernikahan dini pun meningkat. Seperti terjadi di Karanganyar, setidaknya ada 357 kasus pernikahan dini. Pernikahan dini diartikan sebagai pernikahan yang belum waktunya, karena usia belum memenuhi syarat undang-undang.

Sebagaimana diatur dalam UU No 16 Tahun 2019 tentang Perubahan UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia menikah adalah 19 tahun, baik laki-laki maupun perempuan. Bila hendak menikah sebelum usia 19 tahun, maka harus mendapat dispensasi dari Pengadilan Agama melalui orang tua mereka.

Ada fenomena menarik di Karanganyar, karena mayoritas yang mengajukan dispensasi pernikahan dini mendasarkan pada alasan si perempuan telah hamil duluan. Bahkan, belum tamat SMA, perempuan sudah hamil duluan. Akhirnya, apa boleh buat, agar status anaknya jelas, pasangan remaja itu dinikahkan melalui dispensasi Pengadilan Agama.

Pertanyaannya, apakah ini hasil dari pembelajaran daring yang memberi keleluasaan siswa untuk belajar di rumah tanpa harus masuk kelas atau tatap muka ? Celakanya lagi, orang tua membiarkan anaknya untuk belajar atau bermain tanpa kontrol. Akibatnya, terjadi pergaulan bebas remaj hingga berbuntut kehamilan. Kalau sudah begitu, orang tua pun uring-uringan dan berusaha menutupi aib, antara lain dengan menikahkan mereka secara dini.

Ini sebenarnya cara-cara untuk mengakali undang-undang yang mematok batas usia minimum 19 tahun untuk bisa menikah. Namun dengan adanya keringanan atau dispensasi dari Pengadilan Agama, syarat tersebut bisa disimpangi demi kemaslahatan. Fenomena nikah dini semestinya menjadi bahan introspeksi bagi para guru maupun orang tua bahwa selama ini mereka abai terhadap pergaulan putra-putrinya. Akibatnya, pergaulan bebas menjadi gaya hidup mereka. Orang tua dan guru tahunya mereka belajar secara daring, namun malah chattingan.

Untuk itu, para orang tua dan guru harus telah mengontrol dan memantau perkembangan anak selama masa pandemi ini. Lebih baik mencegah daripada menanggulangi. Kalau sudah telanjur hamil, memang apa boleh buat, anak harus dinikahkan. Tapi alangkah baiknya, mencegah jangan sampai terjadi pergaulan bebas, sehingga pernikahan dini bisa dicegah. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ZAINURI ARIFIN Lubang galian gorong-gorong terkesan dibiarkan mangkar tidak ditutup kembali
SEJUMLAH WARGA RESAH Lubang Galian Gorong-gorong Terkesan Mangkrak

Close