Syok Usai Digendam

INI masih seputar kasus bunuh diri. Kali ini giliran driver taksi online, Gd (23) yang nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di sekitar rumah kontrakannya di Sariharjo Ngaglik Sleman beberapa hari lalu. Ia ditemukan oleh keluarganya dalam kondisi tergantung di pohon dengan jeratan tali di leher. Polisi memastikan korban bunuh diri karena tidak ada tanda-tanda penganiayaan.

Mengapa begitu mudahnya orang mengakhiri hidup ketika ditimpa masalah ? Padahal jelas-jelas tidak ada agama apapun yang menganjurkan umatnya untuk membunuh diri sendiri. Bahkan, bunuh diri adalah tindakan tercela yang dikutuk Tuhan. Dipastikan mereka yang bunuh diri tidak memiliki kekuatan iman sehingga dianggapnya bunuh diri sebagai cara penyelesaian masalah.

Padahal, dengan bunuh diri justru memunculkan masalah baru. Seperti pada kasus di atas, dengan meninggalnya Gd malah membuat keluarganya makin prihatin. Apalagi, Gd adalah tulang punggung dalam mencukupi nafkah keluarga. Berdasar keterangan keluarga, beberapa hari sebelumnya Gd ditempa musibah, yakni digendam orang tak dikenal hingga merugi sampai Rp 10 juta. Diduga lantaran persoalan itulah ia nekat bunuh diri.

Apakah dengan demikian uang Rp 10 juta setara dengan harga nyawanya ? Tentu tidak, karena nyawa tak bisa dihargai dengan uang berapapun besarnya. Agaknya Gd hanya berpikir pendek dan mudah putus asa. Padahal, banyak cara untuk memulihkan kondisi perekonomiannya. Hanya karena digendam Rp 10 juta lantas hilang segalanya, ini sangatlah tidak sebanding. Harta bisa dicari, tapi nyawa hanya ada sekali.

Cerita keluarga bahwa Gd sering kemasukan makhluk gaib, pun layak dipertimbangkan. Ini menandakan bahwa yang bersangkutan kurang dekat dengan Tuhan. Kekuatan iman tentu bisa mengalahkan hal-hal seperti itu. Bila rajib beribadah, segala jenis makhluk gaib akan menyingkir. Selain itu, kepercayaan diri juga akan meningkat sehingga tak ada pikiran untuk membunuh diri sendiri karena itu larangan Tuhan.

Pihak keluarga semestinya lebih banyak memberi perhatian bila ada salah satu anggotanya yang mengalami masalah. Boleh jadi Gd syok ketika kehilangan Rp 10 juta akibat digendam orang tak dikenal. Ia takut berhadapan dengan keluarganya, lantara pulan kerja tidak membawa uang, malah kehilangan uang. Nah, bila pihak keluarga membesarkan hati Gd, mungkin yang bersangkutan menjadi kuat dan percaya diri sehingga tak ada pikiran berbuat nekat, apalagi sampai bunuh diri. (Hudono)

Read previous post:
Pemkot Yogya Miliki 156 Inovasi, Paling Banyak Terobosan Digital

Close