Gara-gara Putus Cinta

ilustrasi
ilustrasi

ANGKA bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul cenderung meningkat. Berdasar catatan kepolisian, sepanjang tahun 2020 terdapat 29 kasus bunuh diri, dengan penyebab bervariasi, mulai dari masalah ekonomi, sakit tak kunjung sembuh, hingga faktor asmara. Uniknya, pelaku atau korbannya tak hanya kaum tua, ada juga kaum milenial.

Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini di Kapanewon Nglipar Gunungkidul, seorang remaja siswi sebuah SMK di Gunungkidul, L (15) nekat mengakhiri hidup dengan cara gantung diri di kamar rumahnya. Saat itu ia hanya sendirian di rumah karena orangtuanya sedang bepergian. Alangkah kagetnya orangtua ketika pulang mendapati putrinya tergantung di kamar. Setelah lapor polisi, dipastikan L meninggal karena gantung diri. Polisi juga menemukan pesan singkat L kepada pacarnya tentang kandasnya hubungan cinta mereka.

Dugaan kuat L bunuh diri karena putus cinta. Mengapa putus cinta, polisi masih mendalaminya. Seperti kasus bunuh diri pada umumnya, tak ada yang disalahkan dalam peristiwa tersebut. Putus cinta hanyalah faktor mengapa korban atau pelaku berbuat nekat. Namun, tentu faktor itu tak bisa menjadi alasan untuk menyalahkan orang lain. Apalagi tidak ada yang menganjurkan L untuk bunuh diri. Lain soal bila ada yang menganjurkan atau memberi sarana bagi L untuk bunuh diri, tentu orang yang menganjurkan atau memberi sarana itu bisa dijadikan tersangka. Hal itu secara tegas diatur dalam KUHP.

Orang tua L tentu sangat syok mendapati putrinya tak bernyawa. Yang ada tinggal penyesalan. Kasus di atas bisa menjadi pelajaran bagi para orang tua yang punya anak remaja. Boleh jadi mereka selama ini membiarkan anaknya bergaul dengan siapapun tanpa mengajaknya berdialog. Padahal, anak-anak butuh dialog dengan orang tua, apa yang sebaiknya mereka lakukan.

Ironisnya,orang tua menganggap anak mereka sudah dewasa sehingga tak perlu dinasihati atau diajari. Pemahaman ini sangat keliru dan harus diluruskan. Justru karena mereka menginjak dewasa dan mulai mengenal lawan jenis, sangat butuh pendampingan dan bimbingan orang tua. Ajak mereka diskusi, bukan instruksi. Harus diyakinkan bahwa persoalan yang mereka hadapi juga merupakan persoalan orang tua sehingga butuh solusi bersama. Sehingga, ketika anak menghadapi masalah, ia tidak merasa sendirian karena ada orang tua yang bisa diajak berbagi. Boleh jadi, kasus bunuh diri yang menimpa L dikarenakan tersumbatnya komunikasi dengan orang tua. (Hudono)

Read previous post:
tiket.com Siap Pulihkan Kelesuan Pariwisata Domestik Lewat OTW LOKAL

Close