Klitih Menyerah

ilustrasi
ilustrasi

FENOMENA menarik, seorang pelaku klitih menyerahkan diri ke polisi. Meski atas bujukan orang tuanya, namun setidaknya MI alias Siho (21) warga Sewon yang terlibat pembacokan terhadap korban Aldi Muhammad Saputra dan Kukuh di Jalan Menukan Mergangsan beberapa waktu lalu, berani menghadapi risiko. Dengan tindakan menyerahkan diri, diharapkan akan ada keringanan hukuman terhadap yang bersangkutan. Namun hal itu sepenuhnya wewenang hakim nanti.

Sebaliknya, bila pelaku klitih kabur, justru akan memberatkan hukuman. Pelaku malah bisa dituduh menghambat proses hukum sehingga konsekuensinya akan ada pemberatan hukuman. Hal yang memprihatinkan, MI dan seorang temannya yang kini masih buron, membacok dua korbannya tanpa alasan jelas. Itulah karakteristik klitih, melakukan penganiayaan namun motifnya tidak jelas. Beda misalnya dengan penganiayaan dengan maksud menguasai harta orang lain, ini jelas ada motif ekonomi.

Andai polisi tidak mendatangai rumah MI mungkin orang tua tak tahu bahwa anaknya terlibat klitih. Untungnya, ketika ditanya, MI mengakui telah menganiaya korban, sehingga orang tua mendorongnya untuk menyerahkan diri kepada petugas. Meski begitu, pelaku tetap dijerat Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan di tempat umum yang pelakunya lebih dari seorang. Pelaku terancam hukuman lima tahun enam bulan penjara.

Walaupun tidak menyebabkan korban meninggal, kejahatan klitih tetap harus mendapat prioritas penanganan. Mengapa ? Aksi klitih selalu dilakukan di jalan yang notabene area publik. Bila aksi klitih dibiarkan, maka akan menciptakan teror di masyarakat. Masyarakat menjadi tercekam ketakutan ketika hendak ke luar rumah, apalagi di malam hari. Mereka bukan lagi takut pada Covid-19 ketika keluar rumah, melainkan takut pada kilitih.

Diakui, di saat pandemi Covid-19 angka kriminalitas tak kunjung menurun, malah ada kencenderungan naik. Alasan ekonomi selalu dijadikan dalih pelaku kejahatan. Padahal masih banyak cara halal yang bisa ditempuh, selain melakukan aksi kriminal. Bahkan, banyak residivis yang kumat berbuat kejahatan lagi, lantaran tak punya pekerjaan tetap.

Lembaga pemasyarakatan sepertinya kewalahan untuk melakukan pembinaan terhadap pelaku kejahatan. Selain karena keterbatasan fasilitas, juga keterbatasan SDM yang kapabel menangani warga binaan. Karena itu, kalau kita mendengar ada ‘permainan’ di dalam Lapas, dipastikan penyebabnya tak lepas dari faktor di atas. (Hudono)

Read previous post:
Cerita Bergambar W.A.S.P

Close