Tragisnya Si Penjual Soto

ilustrasi
ilustrasi

DALAM pekan terakhir ini kita digegerkan dua kasus pembunuhan yang terbilang sangat sadis. Kasus yang pertama, ditemukan mayat penuh luka dan diduga korban pembunuhan, di Lapangan Kentungan Condiongcatur Sleman, Senin pagi pekan lalu. Korban teridentifikasi sebagai penjual jamu. Belakangan polisi berhasil meringkus pelaku yang tak lain teman korban. Sedang kasus kedua, penjual soto yang mayatnya di temukan di pinggir Jalan Wonosari-Yogya Rabu dini hari pekan lalu. Kondisi korban juga penuh luka bacokan. Polisi masih menyelidiki kasus ini.

Kedua kasus tersebut sama-sama sadis. Mengapa orang begitu tega menghabisi nyawa orang lain dengan cara yang sangat sadis, dan membuang mayatnya di jalan ? Sudah sedemikian rusakkah mental manusia hingga kelakuannya melebihi binatang. Boleh disebut ini kasuistis, namun karena terjadi di wilayah DIY tentu perlu perhatian serius. Jangan sampai muncul kesan Yogya tidak aman dan sebagainya.
Terkait penemuan mayat penjual soto atas nama Sugiyanto di Jalan Wonosari-Yogya, merebak spekulasi jangan-jangan pelakunya klitih.

Namun polisi enggan untuk berspekulasi, sehingga terus mengumpulkan data, termasuk keterangan saksi agar pelaku segera ditangkap. Kalaupun pelakunya ternyata cah klitih, tentu tidak ada langkah diversi, karena kejahatannya sudah termasuk berat, yakni pembunuhan.

Khusus kasus tewasnya Sugiyanto, polisi perlu mengumpulkan keterangan sebelum peristiwa terjadi. Sebab, ada dugaan korban dihabisi sekitar pukul 02.00 hingga 03.00. Biasanya korban turun dari Gunungkidul untuk berjualan soto di Prawirotaman sekitar pukul 02.00 untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Namun saat itu, ia tak langsung menuju lokasi, melainkan mampir dulu ke rumah temannya. Nah, polisi tentu perlu mengorek keterangan teman korban, apakah korban sedang punya masalah dengan orang lain dan sebagainya.

Spekulasi korban dihabisi klitih sebaiknya diabaikan dulu sambil mencari keterangan seputar peristiwa tersebut. Nasib Sugiyanto sungguh tragis, bekerja mencari nafkah dan pagi buta sudah harus turun gunung mempersiapkan dagangan. Namun pulang bukannya membawa uang, malah nyawa melayang. Wajar bila Sugiyanti, istri korban, berharap agar pelaku pembunuhan suaminya dihukum berat. Keinginan ini sangat manusiawi, karena Sugiyanto adalah tulang punggung keluarga.

Pelaku jelas bukan manusia yang mengenal perikemanusiaan. Pelaku tidak peduli nasib orang yang ditinggalkan Sugiyanto yang masih berharap nafkah. Karena itu sangat layak bila pelaku menerima hukuman yang setimpal. (Hudono)

Read previous post:
Operasional Jembatan Kusumanegara Disiapkan

Close