Membunuh Karena Utang

ilustrasi
ilustrasi

KASUS pembunuhan sadis yang menimpa Yulia (42) di Sukoharjo Jawa Tengah akhirnya terungkap. Kasus tersebut dilatarbelakangi masalah utang piutang antara pelaku dengan korban. Lantaran korban terus menagih utangnya, pelaku kesal dan dibantu temannya membunuh Yulia dengan cara memukulnya dengan linggis di kandang ayam, kemudian dimasukkan ke dalam mobil dalam kondisi tangan terikat, dan kemudian dibakar untuk menghilangkan jejak.

Namun aksi tersebut akhirnya ketahuan, hingga polisi menangkap dua pelaku pembakaran. Boleh jadi, lantaran jengkel ditagih terus utangnya, pelaku kalap dan membunuhnya. Aksi kejahatan ini sungguh kelewat sadis, karena hanya gara-gara utang nyawa sampai harus melayang.

Antara nyawa dengan utang tentu tak bisa dibandingkan, karena nyawa tidak bisa dihargai dengan uang seberapapun besarnya. Dengan begitu, tak ada alasan pembenar menghabisi nyawa seseorang hanya karena ditagih utang. Atas perbuatannya, pelaku harus berhadapan dengan hukum. Bahkan, bila ditemukan indikasi adanya perencanaan untuk membunuh korban, pelaku dapat terancam hukuman mati sebagaimana diatur Pasal 340 KUHP.

Bila dirunut peristiwanya, ihwal utang piutang adalah masalah perdata dan lazim dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi masalah ketika utang tidak segera dilunasi, bahkan debitur atau pihak yang berutang ngemplang alias tidak mau bayar. Menghadapi hal demikian, kreditur atau pihak yang memberi utang biasanya sudah punya kiat, yakni dengan menyita barang jaminan si debitur.

Masalah muncul lagi bila ternyata utang piutang itu tidak memakai jaminan. Lantas, apa yang mau disita ? Untuk itulah terkadang kreditur menggunakan jasa penagih utang atau debt collector untuk menagih utangnya. Sudah menjadi pengetahuan umum, cara kerja debt collector sangat dekat dengan kekerasan atau ancaman kekerasan, karena cara tersebut dianggap efektif.

Kembali pada kasus pembunuhan di atas, masih belum jelas apakah pelaku yang merupakan rekan bisnis korban sudah tidak ada cara untuk melunasi utangnya, sehingga timbul pikiran nekat. Tapi, apapun alasannya, kasus di atas murni pidana karena terjadi pembunuhan. Pelaku kini bukan saja harus masuk penjara dalam waktu relatif lama, namun juga tak bisa serta merta terbebas dari utangnya. Ia tetap harus melunasi utangnya kepada ahli waris korban. (Hudono)

Read previous post:
Arthur Sebut Tiga Pemain Muda Masa Depan PSS

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Latihan PSS Sleman tidak sepenuhnya sia-sia. Meski nasib liga masih gelap, para pemain dan pelatih lega

Close