Klitih Teriak Klitih

ilustrasi
ilustrasi

MAUNYA memberantas klitih, tapi kelakuannya malah melebihi klitih. Itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan perilaku tiga pelajar yang katanya hendak memberantas klitih. Tapi, kata ketiga pelajar tersebut, mereka salah sasaran, yakni menyerang dua remaja, AW (17) dan AH (18), warga Caturharjo Sleman. Keduanya diserang saat melintas di Jalan Letkol Subadri, Jumeneng Lor, Sumbera di Mlati Sleman.

Bahkan, motor yang mereka kendarai dirusak. Setelah mereka lapor polisi dalam waktu relatif singkat, tiga pelaku yang juga pelajar berhasil ditangkap, yakni JA (16), TA (16) dan DY (14), semua warga Sleman. Sayangnya ketiganya tidak ditahan, lantaran masih di bawah umur. Padahal, mereka membawa senjata berupa gir dan bambu untuk menyerang korban.

Benarkah mereka salah sasaran dan benarkah mereka hendak mencari cah klitih ? Lantas siapa pelaku ini ? Pertanyaan ini patut diajukan, mengingat perilaku mereka yang menganiaya korban dan merusak motor jelas-jelas masuk kategori kriminal. Tindakan mereka diancam Pasal 170 KUHP tentang penganiayaan dan perusakan barang yang dilakukan lebih dari satu orang.

Melihat kejadiannya, justru para pelaku inilah yang dikategorikan sebagai cah klitih, karena mereka tidak mengenal korbannya dan asal melakukan penyerangan. Kalau berdalih salah sasaran, lantas siapa yang hendak mereka tuju ? Agaknya, itu hanya sekadar dalih pelaku untuk menghindari jeratan hukum.

Meski mereka tidak ditahan lantaran masih di bawah umur, namun proses hukum jalan terus. Mereka tetap dijerat Pasal 170 KUHP, namun dengan merujuk UU Sistem Peradilan Anak dan UU Perlindungan Anak. Hukuman maksimal yang dijatuhkan kepada mereka maksimal separoh dari ancaman pidana orang dewasa. Tapi, sepertinya, karena mereka dikenakan wajib lapor, polisi akan melakukan evaluasi apakah kasusnya diteruskan atau ditempuh cara diversi.

Cara yang disebut terakhir ini memang dimungkinkan sepanjang tindak pidana yang diancamkan kepada mereka tergolong ringan dan bukan tindak pengulangan. Namun hal itu sepenuhnya menjadi kewenangan polisi. Hanya saja perlu diingatkan, acap diversi justru membuat anak tidak kapok, sehingga akan mengulangi perbuatannya. Polisi hendaknya juga tidak buru-buru percaya dengan dalih pelaku yang katanya hendak memberantas klitih, karena justru merekalah yang klitih. Jadi, kasus tersebut bisa dibilang klitih teriak klitih , (Hudono)

Read previous post:
NGENTA-ENTA MBALELA (5) – Menyusun Rencana Penyergapan di Sungai Manyar

Siang itu juga dengan ditandu oleh para prajuritnya Ki Mas Dana dibawa ke Kartasura disowankan kepada Kanjeng Sultan. Sedangkan Pangeran

Close