Pedang untuk Berjaga

ilustrasi
ilustrasi

TAK ada yang keliru dengan pentas dangdut, asalkan diselesenggarakan sesuai izin. Terlebih dalam masa pandemi Covid-19 ini, pentas dangdut tetap harus dengan sejumlah pembatasan sesuai protokol kesehatan. Begitu pula penontonnya, akan dibatasi. Namun acap protokol kesehatan dilanggar, bahkan oleh oknum aparat sendiri.
Musik dangdut ternyata juga digemari para pelajar. Mereka secara berombongan menonton pentas dangdut di sebuah hotel kawasan Ngemplak Sleman Sabtu malam pekan lalu. Persoalan muncul bukan saat pentas dangdut, melainkan setelah belasan pelajar ini bubar menonton dan berombongan naik motor untuk pulang. Sampai di tengah jalan mereka dicegat aparat kepolisian lantaran perilakunya mencurigakan. Ternyata benar, setelah digeledah ada yang membawa pedang. Alasannya untuk berjaga-jaga dari serangan musuh.

Alasan yang disampaikan para pelajar ini tergolong klasik, dan dianggapnya polisi percaya begitu saja. Mereka yang kedapatan membawa senjata tajam pun diproses hukum dengan merujuk UU Darurat Tahun 1951 dengan ancaman pidana penjara hingga 5 tahun. Dari aspek usia, kebanyakan pelaku memang belum dewasa, namun bukan berarti tak bisa diproses hukum. Mereka tetap dijerat atas tuduhan kepemilikan senjata tajam.
Dalam beberapa kasus pentas dangdut, acap antarpengunjung terjadi gesekan hingga berbuntut kekerasan. Apalagi, bila mereka terpengaruh alkohol atau minuman keras, sehingga sangat gampang tersulut. Padahal mereka teman dekat. Itulah bahaya pengaruh alkohol yang tak lagi mengenal teman atau bukan. Ketika emosi memuncak semua bisa dilakukan.

Kembali pada tindakan pelajar yang membawa senjata tajam untuk berjaga-jaga, tentu harus dikejar, berjaga-jaga dari apa ? Bahkan, sekalipun ada ancaman serangan, tetap tidak diperbolehkan membawa senjata tajam. Seharusnya, kalau memang ada ancaman serangan, mereka lapor polisi untuk meminta bantuan perlindungan.
Tindakan polisi yang mengamankan para pelajar dan menyita senjata tajam adalah langkah antisipatif. Ini jauh lebih baik ketimbang menunggu setelah ada peristiwa (penganiayaan misalnya) dan polisi baru bergerak. Langkah preventif jauh lebih baik ketimbang langkah kuratif. Berkaitan itu, kita mengimbau aparat keamanan untuk terus melakukan patroli secara intensif, sehingga kejadian yang tak diinginkan bisa dihindari. Masyarakat pasti mengharapkan jalan yang mereka lalui aman, tak ada klitih maupun pencoleng. (Hudono)

Read previous post:
LATIHAN DILIBURKAN – PSS Batalkan Penerbangan Dejan dan Aaron Evans

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Manajemen PSS Sleman terpaksa membatalkan penerbangan pelatih kepala Dejan Antonic dan Aaron Evans ke Yogyakarta hari

Close