Colek Payudara

ilustrasi
ilustrasi

MENCOLEK payudara, bukan masalah sederhana, karena bisa berbuntut tuntutan hukum. Mengapa ? Karena di dalamnya mengandung unsur pelecehan seksual, dan berkaitan dengan nafsu birahi seseorang. Tentu ini berbeda dengan seorang dokter yang memegang-megang atau meraba payudara dengan tujuan mendeteksi suatu penyakit. Untuk hal demikian, meski sama-sama memegang payudara, namun tujuannya berbeda, sehingga tidak berdampak hukum.

Sbr (26), bujangan warga Playen Gunungkidul beberapa hari lalu ditangkap polisi karena mencoleh payudara. Agaknya ia tak menyadari tindakannya mencolek payudara ny Ar (40) penjual angkringan langganannya bakal berbuntut hukum. Meski ia ‘hanya’ mencolek dengan kunci kontak, tidak dengan tangan langsung, korban tidak terima dan merasa dilecehkan hingga lapor polisi. Permintaan maaf Sbr via WA pun tak ditanggapi Ny Ar dan tetap melaporkan ke polisi hingga pelaku diamankan.

Sbr bakal dijerat Pasal 281 KUHP atas tuduhan melakukan pelecehan seksual atau pencabulan di tempat umum. Tak perlu diperdebatkan, payudara adalah area yang sangat sensitif bagi perempuan, sehingga tak boleh dijadikan objek main-main. Siapapun yang mempermainkannya, entah itu dengan mencolek atau memegang, bakal berhadapan dengan hukum. Bagi perempuan, payudara adalah bagian dari kehormatannya.

Sbr sepertinya tipe laki-laki yang tidak bisa menahan syahwat. Hanya karena tertarik bentuk payudara Ny Ar, ia kelabakan tak bisa menguasai diri hingga mencolek menggunakan kunci kontak motor. Entah itu menggunakan alat atau tangan langsung, tetap saja masuk tindak pelecehan seksual. Saat diinterogasi petugas, Sbr pun terus terang merasa gemas melihat bentuk payudara korban. Barangkali Sbr masuk tipe laki-laki yang tak kuat menahan syahwat.

Tapi kali ini Sbr kena batunya karena korban tidak terima dan lapor polisi. Tentu persoalan akan lain bila korban memaafkan dan tidak melapor polisi sehingga kasusnya tak diteruskan. Tindakan Ar sudah tepat guna memberi efek jera kepada pelaku. Bayangkan, seandainya korban hanya mengalah dan maklum, niscara Sbr tidak akan insyaf dan mengulangi perbuatannya di kemudian hari.

Karena itu, tindakan polisional sudahlah tepat,agar memberi efek jera kepada polisi. Meski ‘hanya’ berprofesi sebagai pedagang angkringan, namun Ny Ar masih punya harga diri atau kehormatan, sehingga siapapun tidak berhak melecehkannya. Bui telah disediakan bagi mereka yang berperilaku kurang ajar, gatelan dan mencolek payudara. (Hudono)

Read previous post:
Tak Bisa Menerima Kenyataan

JIKA Yono dan Yeyen bahagia dengan segala keterbatasannya, bahkan akhirnya meraih kesuksesan. Maka berbanding terbalik dengan saudar-saudara tirinya yang terbiasa

Close