Pencabul Orang Terdekat

ilustrasi
ilustrasi

HUKUMAN apa yang pantas dijatuhkan kepada ayah yang tega mencabuli putri kandung sendiri ? Mungkin jawabnya akan beragam, tapi umumnya bisa ditarik benang merah, yakni hukuman seberat-beratnya. Mungkin sulit diterima akal sehat, bagaimana mungkin seorang ayah tega mencabuli putri kandung yang tak lain adalah darah dagingnya sendiri.

Itulah peristiwa yang terungkap di Playen Gunungkidul beberapa hari lalu. Pelakunya adalah WA (43) yang tega mencabuli putri kandungnya sendiri, sebut saja Melati (12). Biadabnya lagi, tindakan bejat itu dilakukan berulangkali. Sebagai anak, Melati tak kuas melawan. Sampai akhirnya, para tetangga curiga ketika WA menjemput anaknya yang sedang bermain. Lantaran peristiwa pencabulan itu bukan yang sekali, warga pun meminta keterangan yang bersangkutan.

Karena merasa terdesak, WA pun akhirnya mengakui terus terang telah mencabuli putrinya beberapa kali. Warga seakan tidak sabar lagi mengambil tindakan hingga kemudian membawa WA ke kantor polisi. WA kini harus menjalani proses hukum dan terancam hukuman berat karena mencabuli anak sendiri yang notabene justru seharusnya mendapat perlindungan darinya. Justru karena itulah ia bakal mendapat pemberatan hukuman.

Kejahatan seksual seperti di atas, ternyata bisa terjadi dan dialami oleh orang yang terdekat dengan kita. Orang awam mungkin tak akan mengira bila WA sampai tega melakukan tindakan biadab terhadap putri kandungnya. Meski sebenarnya persoalan ini bersifat privat, namun karena sudah menyangkut tindak pidana berat, maka harus diangkat ke publik.

Tindakan WA diancam dengan UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara. Pertanyaannya, apakah dengan dihukumnya WA, akan menyelesaikan masalah ? Tentu tidak, bahkan akan menimbulkan persoalan baru. Apalagi, bila ternyata WA adalah kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas nafkah rumah tangga.

Dengan dihukumnya WA lantas siapa yang akan mencukupi kebutuhan rumah tangganya ? Beruntung bila ibu korban bisa mencari nafkah. Jika demikian, maka selayaknya bila Dinas Sosial bergerak membantu mengatasi masalah yang dialami Melati. Melati bukan saja butuh pendampingan psikologis, tapi juga topangan ekonomi sehingga bisa bangkit, bukan malah terpuruk.

Peristiwa di atas membuktikan, pelaku kejahatan susila bisa berasal dari orang terdekat, bahkan ayah kandung. Namun tentu ini tak bisa digebyah uyah, karena tidak umum. Mungkin saja WA mengalami kelainan seksual. Tapi, apapun itu, ia tetap harus dihukum sesuai kesalahannya. (Hudono)

Read previous post:
Pantang Ciut Nyali Mengarungi Pandemi

Close