Brosur Apus-apus

ilustrasi
ilustrasi

TIDAK semua penjahat gampang insyaf. Bahkan, meski sudah mendekam di Lapas Nusakambangan yang selama ini dikenal lapas kelas berat, tak juga membuat narapidana insyaf atau bertobat. Contohnya, AJ (47), warga Karangmojo Kunungkidul yang baru dua minggu keluar dari Lapas Nusakambangan. Baru keluar dari lapas itu ia sudah melakukan serangkaian kejahatan penipuan, antara lain dengan berpura-pura bisa meminjamkan modal tanpa agunan.

Agar aksinya meyakinkan, ia membagi-bagikan brosur penawaran pinjaman tanpa agunan dengan bunga lunak. Tapi semua hanyalah apus-apusan saja, karena AJ sama sekali tidak memegang uang. Nyatanya tetap saja ada calon korbannya yang tertarik dan hendak meminjam Rp 2 juta kepada AJ. Singkat cerita, korban, yakni Fitri warga Bantul menghubungi nomor AJ yang tertera di brosur. AJ menjanjikan uang korban tidak dipotong bila ikut membantu menyebarkan brosur.

Syarat itu pun dipenuhi, Fitri bersama AJ mengedarkan brosur di pasar, dan tak tahunya motor Fitri malah diembat hingga yang bersangkutan lapor polisi. Modusnya jelas sangat kasar, karena justru bukan penipuan modal yang dijalankan, melainkan pencurian ketika korban lengah. AJ memang tidak sedang menjalankan bisnis permodalan, melainkan pencurian biasa yang dilancarkan saat korban lengah.

Ternyata bukan hanya motor saja yang diembat AJ, karena sebelumhya ia juga mencuri laptop dari korban lainnya dengan modus mencarikan pekerjaan. Intinya, AJ piawai dalam mengelabui korban. Ada pepatah, sepandai-pandainya tupai melompat pada akhirnya jatuh juga. Itulah yang dialami AJ, ia berhasil ditangkap setelah korban melapor. Kini setelah dua minggu keluar dari Lapas Nusakambangan, AJ kembali harus meringkuk di sel tahanan guna menjalani proses hukum.

Lapas sekelas Nusakabangan saja tidak mampu membuat AJ kapok. Mungkin orang awam akan mengatakan, dasarnya penjahat tetap saja penjahat. Lapas hanyalah tempat transit untuk melakukan kejahatan berikutnya. Tapi anggapan tersebut tidak selamanya benar. Bagaimanapun Lapas harus didesain untuk menyadarkan mereka yang terjerumus dunia hitam. Bahwa hasilnya bisa berbeda, tentu itu soal lain. Boleh jadi karena fasilitas lapas yang kurang representatif, atau dari diri orang tersebut yang memang sulit berubah meski lingkungannya kondusif.

Masyarakat tentu harus hati-hati, jangan asal percaya pada brosur, apalagi menawarkan pinjaman modal tanpa agunan. Ini bukan berarti kasus di atas bisa digeneralisasi, melainkan masyarakat tetap harus waspada karena penjahat selalu memanfaatkan kelengahan calon korbannya. (Hudono)

Read previous post:
M Nuh: Siberindo.co Adalah Sebuah Harapan

TANGERANG SELATAN (MERAPI) - Situs media online Siberindo.co resmi di-launching di Sekretariat Bersama (Sekber) SMSI di Jalan Graha Bintaro Pondok

Close