Klitih Melawan Polisi

ilustrasi
ilustrasi

KLITIH kembali beraksi di masa pandemi Covid-19 ini. Mereka sepertinya tidak peduli dengan kondisi tersebut, meski dilanda pandemi, klitih jalan terus. Entahlah, apakah aksi mereka direstui orangtua atau tidak. Yang jelas, eksistensi klitih makin terlihat, bahkan dalam aksinya mereka lebih nekat. Polisi pun dilawan. Memprihatinkan lagi, pelaku umumnya masih berusia remaja dan masih bersekolah.

Para orangtua yang masih punya perhatian terhadap masa depan anak-anak pasti prihatin dan tidak menghendakai anaknya jadi pelaku klitih. Seperti terjadi di kawasan Rejowinangun Kotagede Yogya Minggu pekan lalu, dua cah klitih JA (19) dan RA (18), keduanya berstatus pelajar di Yogya nekat menodongkan pistol angin kepada polisi yang mengejarnya. Polisi pun tetap memburunya hingga mereka terjatuh dan berhasil diringkus.

Pertanyaannya, sudah sedemikian parahkah kondisi di Yogya, sehingga klitih saja berani melawan polisi ? Pasti ini kasuistis, yang artinya bukan fenomena umum sehingga tak bisa digeneralisasi. Pengejaran terhadap cah klitih ini berawal ketika polisi mengadakan razia dan curiga dengan kedua bocah tersebut yang membleyer sepeda motor sambil berteriak. Ketika dikejar malah menantang dengan menodongkan pistol angin. Begitu tertangkap, mereka kedapatan selain membawa air gun juga membawa keling yang biasa digunakan untuk berkelahi. Sementara 6 orang anggota gerombolan cah klitih ini juga berhasil dibekuk.

Alasan klasik, ketika ditangkap mereka mengatakan membawa senjata untuk berjaga-jaga dari serangan musuh. Jelas ini alasan yang dibuat-buat, sehingga polisi tak perlu mempertimbangkannya sebagai pembenaran. Kalau asumsinya benar, lantas siapa yang dianggap mereka musuh ? Boleh jadi polisi juga dianggap musuh, sehingga mereka berani menodongkan senjata.

Pertanyaan selanjutnya, kalau polisi saja dilawan, lantas bagaimana dengan orang biasa ? Tentu mereka lebih berani lagi. Inilah yang membuat kita bukan hanya prihatin, tapi juga harus memikirkan bagaimana upaya untuk memberantas klitih. Klitih adalah penyakit yang harus dihilangkan dari Yogyakarta. Kalau perlu, masyarakat dimobilisasi untuk melawan klitih. Meski begitu, bukan berarti masyarakat boleh main hakim sendiri, melainkan bagaimana mewujudkan situasi kamtibmas yang kondusif, sehingga tak ada klitih.

Lantaran sudah pada tahap meresahkan masyarakat, alangkah baiknya, cah klitih ini tetap diproses hukum tanpa perlu melakukan diversi (penyelesaian di luar hukum). Apalagi, aksi mereka dilakukan di saat pandemi Covid-19, yakni ketika masyarakat sedang kesusahan . (Hudono)

Read previous post:
Batik Nitik Digemari Kalangan Pejabat

Close