Sang Jagal Balita

ilustrasi
ilustrasi

SUNGGUH aneh, hanya gara-gara wajah mirip sang ayah, seorang balita AF (4,5), warga Caturharjo Sleman dianiaya hingga tewas oleh selingkuhan ibunya, JT (26). Ironisnya lagi, penganiayaan itu sudah berlangsung selama dua tahun, tanpa terungkap. Menjadi tidak logis bila sang ibu tidak mengetahui kejadian tersebut.

Setidaknya itulah fakta yang terungkap saat digelar rekonstruksi kasus penganiayaan yang menyebabkan AF meninggal. Hampir setiap hari AF mendapat siksaan dari JT, selingkuhan ibunya. Sang ibu mengaku tidak tahu bila anaknya disiksa oleh selingkuhannya karena ia sedang bekerja. Tentu dalih ini menjadi tidak logis karena penganiayaan itu berlangsung selama dua tahun. Jadi, tidak masuk akal bila tidak diketahui sama sekali oleh ibu kandung AF.

Tragisnya lagi, pada hari H penganiayaan, AF digendong kakaknya karena yang bersangkutan tak bisa jalan akibat dianiaya JT. Sang kakak berinisiatif minta bantuan JT untuk membopong adiknya. Namun apa yang terjadi ? Bukannya JT menolong, tapi malah AF diangkat tinggi-tinggi kemudian ditendang dengan dengkul atau didengkul hingga tak sadarkan diri. Akibatnya sangat fatal, berdasar hasil ronsen, AF meninggal karena didengkul.

Tindakan JT sungguh sangat biadab. Hanya karena wajah AF mirip dengan ayah kandungnya, JT marah dan bertindak barbar. Apa salah AF ? Sampai-sampai , penasihat hukum JT yang umumnya sebagai penasihat hukum akan membela kliennya, mengatakan kejahatan JT tergolong luar biasa, sangat sadis, apalagi dilakukan di depan kakak AF. Kakak AF sebenarnya juga sering mengalami penganiayaan seperti adiknya, namun tidak separah AF.

Lebih aneh lagi, tak terlihat raut muka penyesalan pada wajah JT. Sulit memberi julukan yang pas kepada JT, sang jagal pembunuh balita mungkin lebih tepat. Bagaimana dengan sang ibu, apakah lebih memilih JT ketimbang AF yang notabene darah dagingnya sendiri ? Kalau benar mereka sudah tinggal seatap selama dua tahun, rasanya tidak masuk akal bila tidak mengetahui penyiksaan terhadap AF dan kakaknya.

Lazimnya, seorang ibu lebih mencintai anak-anaknya ketimbang orang lain, apa lagi selingkuhannya. Meskipun berdalih tidak mengetahui peristiwanya, sang ibu patut menduga bahwa ia mengetahui AF mengalami siksaan oleh selingkuhannya. Boleh jadi, sang ibu cenderung membiarkan penyiksaan itu terjadi dan seolah tersadar ketika AF meregang nyawa. Dengan begitu, ibu kandung AF sangat layak untuk dimintai pertanggungjawaban hukum atas kematian anaknya. (Hudono)

Read previous post:
MERAPI-ISTIMEWA Danrem Pamungkas Brigjen Ibnu Bintang Setiawan menerima audensi dr Jovita dan rombongan
Danrem Pamungkas Terima Audensi Kepala RSJ Soerojo Magelang

Close