Menyidik Kebakaran Kejagung

ilustrasi
ilustrasi

MASIH ingat kasus terbakarnya gedung Kejaksaan Agung (Kejagung) 22 Agustus lalu ? Ya kebakaran di lantai 6 gedung bundar itu telah menimbulkan spekulasi beragam di masyarakat. Ada yang beranggapan kebakaran itu disengaja untuk menghilangkan barang bukti, tapi ada pula yang menganggapnya sebagai musibah. Dua hal tersebut tentu sangat berbeda konsekuensinya. Sementara pihak Kejagung saat itu mengatakan masih punya salinan dokumern perkara, sehingga tidak benar bila barang bukti hilang dengan terjadinya kebakaran.

Namun kita kemudian dikejutkan dengan pengumuman Bareskrim Polri pekan lalu yang menyatakan ada indikasi pidana dalam kasus tersebut. Dengan begitu, kebakaran gedung Kejagung sesungguhnya bukanlah musibah, melainkan ada unsur kesengajaan atau kelalaian sehingga api membakar gedung bundar tersebut.

Spekulasi kembali muncul dan dikait-kaitkan dengan penanganan kasus cessie Bank Bali Djoko S Tjandra. Sebab, peristiwa itu (kebakaran) terjadi di saat aparat penegak hukum menelusuri sejumlah oknum pejabat baik di kepolisian maupun kejaksaan yang mendapat keuntungan dari kasus Djoko Tjandra. Sejumlah jenderal polisi telah dipecat karena diduga kuat memberi fasilitas kaburnya Djoko, antara lain dengan mencoret red notice yang bersangkutan. Begitu pula oknum jaksa Pinangki yang beberapa kali bertemu dengan Djoko telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Kejagung.

Kiranya, kepolisian menaikkan status penyidikan kasus kebakaran gedung Kejagung tentu dengan dasar yang kuat. Pertanyaannya, siapa tersangkanya ? Inilah yang kini sedang ditunggu masyarakat. Apakah ada kaitan dengan kasus Djoko S Tjandra ? Orang masih menduga-duga. Jawabnya bisa ya, bisa pula tidak.

Tapi yang jelas, siapapun yang berada di balik kasus terbakarnya gedung Kejagung, punya agenda tertentu atau paling tidak, diuntungkan atas kasus tersebut. Misalnya, dengan terbakarnya gedung Kejagung maka barang bukti yang disimpan di tempat itu akan lenyap sehingga akan sulit dalam pembuktian di pengadilan nanti. Jika itu yang dikehendaki maka pembakar gedung tentu terkait erat dengan Djoko Tjandra.

Tapi tidak pula tertutup kemungkinan lain, misalnya ada investor yang sangat diuntungkan dengan terbakarnya gedung Kejagung, sehingga ia mendapat kesempatan untuk membangun kembali dengan nilai bangunan yang lebih tinggi. Tapi semua hal di atas hanyalah spekulasi yang harus dibuktikan. Karena itu, karena kasusnya sudah terbuka ke publik, maka aparat penegak hukum harus transparan mengungkap siapa saja yang terlibat dalam kasus terbakarnya gedung Kejagung. (Hudono)

Read previous post:
2 Warga Positif Corona, Pasar Jowa Ditutup 3 Hari

Close