Covid-19 Kian Menggila

ilustrasi
ilustrasi

SERANGAN virus corona makin menjadi-jadi. Bahkan di DIY, pertambahan orang yang terpapar Covid-19 bisa mencapai tujuh puluh orang lebih. Mengapa ini bisa terjadi ? Padahal, biasanya penambahan positif covid-19 hanya beberapa gelintir saja dalam sehari. Bila kondisi ini terus berlanjut, tentu sangat mengkhawatirkan. Anehnya, mayoritas atau 70 persen orang yang terpapar Covid-19 di DIY adalah orang tanpa gejala (OTG)

Sehubungan dengan itu, kita teringat dengan pernyataan salah seorang dokter puskesmas di Jakarta bahwa pada saatnya virus ini mengalami pelemahan, sehingga orang yang terpapar tidak akan terasa atau mengalami gejala serius. Hal itu ditunjukkan dengan banyaknya orang yang terpapar namun tidak menunjukkan gejala sakit atau lebih dikenal dengan istilah OTG.

Terlepas benar tidaknya analisis tersebut, masyarakat tetap harus waspada dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Justru dengan banyaknya OTG ini menyimpan potensi bahaya luar biasa. Mengapa ? Karena mereka merasa tidak sakit atau tidak bergejala, sehingga mengabaikan protokol kesehatan, misal tidak memakai masker maupun tidak jaga jarak serta cuci tangan. Akibatnya, orang lain lah yang dirugikan.

Penularan oleh OTG seperti itu bisa berlangsung secara masif, sehingga dalam waktu singkat pertambahan orang yang terpapar virus corona akan melonjak drastis. Lantas, apa yang mesti dilakukan ? Dari sisi pemerintah harus mengetatkan penegakan protokol kesehatan, yakni dengan menerapkan sanksi tegas bagi pelanggar.

Seperti yang saat ini sedang digencarkan aparat gabungan, mereka yang kedapatan tidak memakai masker langsung dirazia dan dikenai sanksi, baik yang bersifat sosial maupun denda. Dalam beberapa kasus, pengenaan denda yang mencapai Rp 100 ribu dinilai memberatkan, sehingga mereka memilih sanksi sosial, seperti membersihkan kamar mandi umum, menyapu jalan dan sebagainya.

Sanksi sebenarnya hanya salah satu upaya untuk mendisiplinkan warga secara paksa. Sebab, sudah terbukti bila tidak dilakukan dengan paksaan, maka aturan tersebut diabaikan. Warga dengan seenaknya tidak memakai masker, atau memakai masker tapi tidak benar, dan sebagainya. Kita mungkin bisa mencontoh DKI Jakarta yang kini telah menetapkan kembali status Pembatasan Sosial Berskala Besar atau PSBB lagi. Bahkan, kini telah dibentuk semacam pamswakarsa untuk mendisiplinkan warga. Meski pembentukan pamswakarsa itu ditentang sebagian kalangan, namun tetap jalan demi menyelematkan generasi dari ancaman virus corona. (Hudono)

Read previous post:
PSIM PANTANG ANGGAP REMEH LAWAN – Laga Perdana Lawan Putra Sinar Giri

YOGYA (HARIAN MERAPI) - PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator kompetisi akhirnya merilis jadwal pertandingan kompetisi Liga 2 musim

Close