PSK Berebut Pelanggan

ilustrasi
ilustrasi

INI masih seputar tema pekerja seks komersial (PSK). Tema tersebut tetap menarik dibahas karena merupakan fenomena sosial atau bahkan digolongkan sebagai penyakit masyarakat yang sulit disembuhkan. Munculnya prostitusi tak bisa dilepaskan dari struktur sosial masyarakat, dan masih menonjolnya perbedaan kaya-miskin.

Kali ini kasusnya terjadi di Semarang. Singkat cerita, sejumlah PSK terlibat baku hantam gara-gara memperebutkan lelaki hidung belang di kawasan Jembatan Berok Kota Lama Semarang Rabu dinihari lalu. Beberapa PSK pun harus dirawat di rumah sakit lantaran mengalami luka cukup serius terkena pukulan benda keras. Sedang sebagian lainnya diamankan polisi.

Rebutan laki-laki hidung belang di antara PSK mungkin bukan fenomena baru. Menjadi menarik ketika mereka terlibat baku hantam hingga beberapa di antaranya mengalami. Warga yang melihat kejadian tersebut pun lapor polisi. Ironisnya, ketika polisi datang, aksi para PSK itu bukannya berhenti, melainkan terus berlanjut hingga mereka diamankan.

Mengapa mereka berebut lelaki hidung belang ? Motif paling kuat adalah ekonomi. Ya, mereka hidup dari bisnis esek-esek. Bila tidak ada pelanggan, maka dapur tak ngebul. Sayangnya, bisnis yang mereka jalankan tidak halal, bahkan melanggar hukum. Karena itu, di sejumlah daerah telah membuat Perda tentang larangan prostitusi. Mereka yang terjaring razia bakal dikenai hukuman denda atau badan.

Namun, seiring tingginya denda yang dikenakan pelanggar, tetap saja prostitus berjalan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Terkait kasus di atas, ada ungkapan: untuk mendapatkan uang haram saja harus berdarah-darah, apalagi yang halal. Tapi ungkapan tersebut tentu hanya dianut mereka yang berpandangan pesimistis. Padahal, masih banyak cara halal yang bisa dilakukan siapapun.

PSK berkelahi gara-gara rebutan lelaki hidung belang, sesungguhnya bisa menjadi cermin sebagian masyarakat kita. Itulah realitas sosial yang disajikan di depan mata kita. Kalau penyelesaiannya hanya sekadar mengamankan, kemudian menghukum mereka dengan denda atau kurungan, dipastikan tak akan menyelesaikan masalah. Akar masalahnya, terutama ekonomi, harus diselesaikan dulu.

Bahkan, bantuan tunai yang bersifat langsung pun belum menjamin mereka insyaf, apalagi bantuan tersebut hanya bersifat temporer atau sesaat. Lebih penting adalah bagaimana mendesain dengan perencanaan matang, sistematis dan terstruktur untuk memberdayakan mereka agar berkembang ke arah positif sesuai dengan harkat kemanusiaannya. Bila mereka merasa telah berdaya dan mampu menghasilkan ekonomi produktif, niscaya dunia kelam akan ditinggalkan. (Hudono)

Read previous post:
Kartun Jurukunci, Sabtu (19/9/2020)

Close