Mencuri Karena Utang

Ilustrasi

UTANG sering dijadikan alasan bagi sebagian orang berbuat kriminal. Padahal, tidak ada alasan pembenar bagi siapapun untuk melakukan kejahatan. Dan, itulah yang dilakukan pasangan siri PR (32) asal Sleman dan SH (38) warga Magelang. Atas bujukan PR, SH melakukan pencurian di sebuah kos kawasan Wedomartani Ngemplak Sleman baru-baru ini. Ia berhasil menggasak motor, mesin las dan lain-lain hingga total senilai puluhan juta rupiah.

SH berhasil menyatroni rumah kos tersebut lantaran ayah PR sebagai penjaga kos yang sekaligus memegang kunci. Entah bagaimana, kunci tersebut bisa diduplikasi hingga digunakan untuk membobol rumah kos milik Yoanito Tondi, warga Demangan Gondokusuman. Kasus terbongkar setelah pelaku menawarkan barang curian tersebut melalui medsos. Keduanya pun dibekuk dan harus menjalani proses hukum.

Namanya penjahat, selalu pandai berkelit. Mereka mengaku terpaksa mencuri karena terlilit utang. Alasan tersebut tentu tak bisa menjadi pembenar perbuatan, yang artinya mereka tetap diproses hukum. Apalagi, sudah lima kali SH terlibat pencurian atas bujukan istri sirinya, PR. Dari aspek hukum negara, antara PR dan SH sebenarnya bukanlah suami istri sah. Meski mereka mengaku nikah siri (diam-diam) oleh negara tetap tidak diakui, sehingga diperlakukan sebagai orang lajang.

Namun terkait dengan kasusnya (pencurian), tidak ada pengaruh signifikan, entah itu suami istri siri atau resmi tetap saja pencurian harus diproses hukum. Meskipun PR tidak terlibat langsung dalam pencurian, melainkan hanya membujuk serta memberi kesempatan, tetap dijerat hukum berdasar Pasal 55 KUHP tentang delik penyertaan, yakni orang yang menyuruh melakukan serta memberi kesempatan melakukan tindak pidana.

Lantas, bagaimana pula dengan peran ayah PR yang notabene penjaga kos milik korban ? Sepanjang yang bersangkutan tidak tahu dan tidak memberi kesempatan pelaku melakukan aksinya, maka ia tak dikenai pidana. Hukum pidana memang bisa menjerat sebanyak-banyaknya orang. Sekecil apapun keterlibatannya dapat dimintai pertanggungjawaban hukum. Sebaliknya, bila orang tidak terlibat, tentu jangan dicari-cari kesalahannya.

Masa pandemi Covid-19 memang sering dijadikan biang dari segala masalah, termasuk masalah ekonomi. Kesempatan berusaha menjadi sempit, orang jadi sulit mencari nafkah, utang semakin membengkak dan ekonomi rumah tangga pun morat-marit. Tapi kondisi tersebut tak bisa menjadi alasan untuk melakukan kejahatan, karena masih banyak cara halal mendapatkan penghasilan. (Hudono)

Read previous post:
MAHASISWA UMBY PRAKTIK MENGAJAR DI SMA KULONPROGO- Beradaptasi dengan Perubahan Akibat Covid-19

PEMBELAJARAN secara daring akibat pandemi Covid-19 masih berlangsung di sekolah-sekolah hingga saat ini. Tak dapat dipungkiri, perubahan dari pembelajaran konvensional

Close