Konflik Buruh-Majikan

ilustrasi
ilustrasi

KARYAWAN toko roti Trubus di Jalan Poncowinatan Jetis Yogya ditemukan meninggal dunia dalam kondisi luka bakar serius, Sabtu pagi pekan lalu. Karyawan bernama Indra (39), warga Purworejo diduga sengaja membakar diri dengan menyiram bahan bakar minyak di sekujur tubuhnya dan toko roti tempatnya bekerja. Kasus ini menghebohkan masyarakat sekitar karena kematian Indra sangat tragis.

Menurut keterangan sejumlah saksi, pelaku sedang ada masalah dengan majikan atau pemilik toko. Pagi itu ia ingin menemui pemilik toko untuk menyelesaikan masalahnya, namun dijanjikan agar yang bersangkutan datang pada siang hari. Tapi, entahlah, karena tidak segera ditemui, pelaku berbuat nekat membakar diri hingga meninggal. Berikut perabot di tempat itu juga terbakar, kerugian ditaksir sekitar Rp 50 juta.

Perihal persoalan apa yang membelit Indra belum diketahui pasti. Namun berdasar informasi yang beredar di medsos persoalan terkait dengan ketenagakerjaan. Intinya pelaku diberhentikan dari pekerjaan karena dianggap berbuat salah. Informasi itu tentu masih perlu diklarifikasi. Tapi yang jelas, semua sudah terjadi, nyawa telanjur melayang.

Yang bisa dilakukan hanyalah mengambil hikmah dari peristiwa tersebut. Sesulit apapun persoalannya, masih ada cara untuk menyelesaikannya, apalagi berkaitan dengan ketenagakerjaan. Dalam beberapa kasus, sengketa antara pekerja dengan pemberi kerja (majikan), umumnya pemberi kerja lebih dominan. Bahkan, ada kesan pemberi kerja berbuat apa saja terhadap pekerja. Padahal seharusnya tidak demikian. Antara pekerja dengan pemberi kerja punya kedudukan sejajar. Mereka diikat dengan perjanjian yang harus mereka taati.

Celakanya, pemberi kerja terkadang bertindak sepihak dan merasa lebih berkuasa atas pekerjanya. Bahkan, perjanjian yang mereka teken acap lebih menguntungkan pemberi kerja. Perjanjian semacam ini tentu tidak seimbang. Padahal, berdasar UU Ketenagakerjaan, perjanjian yang dibuat dengan tekanan, bahkan melanggar norma kemasyarakatan dapat dibatalkan. Tapi pekerja biasanya hanya pasrah dengan mengatakan: apa boleh buat ketimbang tidak mendapatkan pekerjaan.

Lebih ironis lagi, perjanjian itu tidak dibuat secara tertulis, melainkan lisan, sehingga ketika ada persoalan kedua belah pihak, acap sulit membuktikannya. Padahal, sudah ada mekanisme penyelesaian bila antara pekerja dan pemberi kerja berkonflik. Bila tidak bisa musyawarah mufakat, maka penyelesaian bisa dilakukan melalui P4D atau Panitia Penyelesaian Perselihsan Perburuhan Daerah yang ada di masing-masing provinsi. Bunuh diri atau bakar diri tentu bukanlah penyelesaian masalah. (Hudono)

Read previous post:
Tali Putus, Lift yang Dinaiki Ketua DPRD DIY Terjun Bebas

Close