Awas, Pencabul Anak

ilustrasi
ilustrasi

KASUS pencabulan terhadap anak kian mengkhawatirkan. Bahkan, pelakunya bukan orang jauh, sebaliknya malah orang yang dekat dengan korban. Ironisnya, korban bukannya dibela, malah dipojokkan dengan tuduhan mengarang cerita, menyebar hoaks dan sebagainya. Sementara aparat kepolisian yang notabene ujung tombak dalam penegakan hukum masih sulit diharapkan.

Inilah kondisi yang dialami keluarga Y, warga Gamping Sleman yang memiliki anak kelas 4 SD yang diduga kuat menjadi korban pencabulan tetangganya. Dua bulan lalu Ny Y sudah melapor ke polisi, namun belum ada perkembangan. Menurut Y, proses hukum belum jalan lantaran minimnya alat bukti serta tak ada pengakuan dari pelaku. Lebih tragis lagi, para tetangga menuduh anak tersebut berhalusinasi.

Berdasar hasil pemeriksaan di RSUP Dr Sardjito, anak usia 9 tahun itu mengalami depresi ringan akibat kejadian tersebut. Dalam perkembangannya, si anak diungsikan pihak keluarga ke kerabat dekatnya. Mengapa tak ada yang memberi perhatian terhadap kasus ini. Mengapa pula pengurus RT setempat terkesan abai terhadap masalah ini ?

Mengapa pula kepolisian, sebagaimana pengakuan Y, dengan mudahnya mengatakan kasus tersebut tak cukup bukti ? Kiranya pejabat kepolisian di DIY perlu memberi perhatian khusus terhadap kasus ini, apalagi ini menyangkut nasib bocah yang diduga mengalami pelecehan seksual oleh tetangganya. Kalau alasan kepolisian kesulitan mengusut kasus ini karena pelaku tidak mengaku, tentu menjadi tidak masuk akal. Sebab, sudah lazim bila dalam kasus pidana pelaku akan selalu berkelit dan tidak mengakui perbuatannya. Untuk itulah dibutuhkan alat bukti lain, baik saksi maupun lainnya.

Atau, adakah hal istimewa dalam diri pelaku sehingga petugas merasa sungkan untuk mengusutnya ? Zaman telah berubah, kini tak ada lagi orang yang kebal hukum, sehingga aparat kepolisian tak perlu takut atau khawatir mengusut kasus ini. Seharusnya mereka berempati, bagaimana seandainya peristiwa itu menimpa keluarga mereka.

Prosedur penanganan perkara memang harus dijalankan, namun bukan berarti dibiarkan. Pengakuan korban yang diancam pelaku bahwa orangtuanya akan dibunuh bila tidak menuruti kemauannya semestinya harus dikejar. Justru di situlah tugasnya penyelidik atau penyidik, yakni dengan mengumpulkan keterangan sebanyak-banyaknya. Korban yang ketakutan setiap melihat pelaku, tentu layak didalami. Jangan sampai ada perlakuan hukum yang diskriminatif, dengan membiarkan pelaku pencabulan berkeliaran tanpa tersentuh hukum. (Hudono)

Read previous post:
Targetkan Lima Besar, Manajemen PSS Siapkan Bonus

SLEMAN (HARIAN MERAPI) - Manajemen PSS Sleman bakal menyiapkan bonus bagi para pemain selama lanjutan Liga 1. Namun bonus yang

Close