Stop Main Pukul

ilustrasi
ilustrasi

TENTU wajar seorang kakak membela adiknya. Apalagi bila adiknya mendapat perlakuan tak mengenakkan, sang kakak tampil membela adiknya. Namun, pembelaan itu harus penuh perhitungan sehingga tidak mengarah kriminal atau pelanggaran hukum.

Seperti yang terjadi di Sleman baru-baru ini, BA (18), warga Ngaglik harus berurusan dengan polisi lantaran menganiaya seorang pelajar, D (11). Ia menempeleng pelajar tersebut hingga bagian mukanya lebam-lebam. Karuan orang tua korban tidak terima dan lapor polisi. BA pun diciduk dan harus mendekam di tahanan Mapolsek Ngaglik.

Mengapa BA menempeleng anak kecil ? Usut punya usut, BA membela adiknya karena alat vitalnya ditarik oleh D. Tindakan BA seolah mendapat pembenaran, yakni membela sang adik. Namun, tindakannya berlebihan, sehingga BA harus mempertanggungjawabkannya di depan hukum. Kakak mana tidak marah adiknya diperlakukan seperti itu, ditarik-tarik alat vitalnya. Sebaliknya, orang tua mana tidak marah anaknya ditempeleng hingga lebam-lebam.

Tentu akan muncul pertanyaan, tindakan D yang menarik-narik alat vital adik BA mengapa tidak diusut ? Mengapa hanya kasus penempelengannya yang diperkarakan ? Mengapa pula BA yang masih berusia 18 tahun ditahan ? Terkait kasus ini polisi tentu harus hati-hati, jangan sampai penanganan kasus ini malah menimbulkan masalah baru.

Artinya, polisi harus menyelidiki apakah benar D menarik-narik alat vital adik BA? Sejauh mana dampaknya, dan apakah memenuhi unsur pidana ? Sedang terkait kasus pemukulan terhadap D tentu lebih mudah dibuktikan karena meninggalkan jejak lebam-lebam sehingga mudah divisum. Mungkin antara tindakan D terhadap adik BA dengan tindakan BA terhadap D tidak seimbang, sehingga hanya kasus pemukulannya yang diproses hukum.

Nampaknya, polisi perlu mempertimbangkan lagi penahanan terhadap BA, karena dikhawatirkan akan mempengaruhi kondisi psikologis yang bersangkutan. Selain yang bersangkutan masih muda (baru 18 tahun), juga bila tidak ada kekhawatiran BA melarikan diri atau menghilangkan barang bukti, kiranya tak perlu dilakukan penahanan. Namun sepenuhnya itu kewenangan penyidik untuk menentukan.

Dengan adanya kasus tersebut, tentu harus menjadi perhatian siapapun untuk tidak gampang main pukul terhadap siapapun juga. Sebab, salah-salah bisa masuk bui. (Hudono)

Read previous post:
Sri Sultan HB X Ikut Berduka Wafatnya Jakob Oetama

YOGYAKARTA (MERAPI) - Gubernur DIY, Sri Sultan HB X turut berdukacita atas wafatnya tokoh pers Nasional, Jakob Oetama. Sultan berharap

Close