Gara-gara Rp 100 Ribu

YA, gara-gara uang Rp 100 ribu nyawa melayang. Itulah yang dialami seorang pemuda, Lukman Wijaya (18), warga Pleret Bantul. Lantaran dituduh mencuri uang Rp 100 ribu, Lukman dikeroyok di sebuah rumah kosong di kawasan Wonokromo Bantul hingga meninggal. Padahal, itu masih sebatas dugaan, yang artinya belum ada bukti bahwa pemuda tersebut mencuri.

Peristiwa tersebut menggegerkan masyarakat khususnya di wilayah Pleret Bantul. Korban ditemukan oleh anak pemilik rumah dan selanjutnya dibawa ke rumah sakit terdekat, namun kondisinya dinyatakan sudah meninggal. Uang Rp 100 ribu tentu tidak sebanding dengan nyawa manusia. Sama sekali tidak ada pembenaran atas peristiwa tersebut.

Bahkan, pencuri sekalipun berhak untuk hidup dan mendapat perlakuan manusiawi. Tidak seorang pun berhak menghilangkan nyawanya dengan semena-mena. Apalagi belum ada bukti yang bersangkutan melakukan pencurian. Mungkin selama ini masih ada stereotape bahwa pencuri harus dihajar dan diperlakukan apa saja, bahkan hingga nyawa melayang. Padahal, tindakan tersebut tidak dibenarkan hukum.

Untuk mengungkap persis motif di balik peristiwa tersebut, polisi masih perlu mengembangkan penyelidikan, termasuk meminta keterangan sejumlah saksi. Diperoleh informasi, pada sekitar pukul 02.00 korban dijemput oleh sejumlah orang yang ternyata kemudian dibawa ke rumah kosong untuk dianiaya. Polisi tentu harus meminta keterangan orang yang melihat penjemputan tersebut guna mengidentifikasi pelaku dan peristiwa.

Sungguh kita sangat prihatin belakangan aksi main hakim sendiri makin merebak. Sepertinya tiada hari tanpa kekerasan. Begitu mudahnya nyawa melayang untuk urusan sepele. Uang Rp 100 ribu sangatlah tidak berarti dibanding nyawa seseorang. Sehingga atas nama alasan apapun tidak dibenarkan melakukan penganiayaan, apalagi sampai menyebabkan orang meninggal. Bisa saja, pelaku tidak bermaksud menghilangkan nyawa orang lain, namun patut diduga bila kekerasan dilakukan secara brutal bakal menyebabkan kematian.

Pelaku mungkin akan dikenakan pasal penganiayaan yang menyebabkan orang lain mati (Pasal 351 ayat 3 KUHP) dengan pidana maksimal 7 tahun penjara. Bila penganiayaan sudah direncanakan, maka lebih tepat dikenakan Pasal 353 ayat (3) KUHP dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun.(Hudono)

Read previous post:
ilustrasi
Penipu Palsukan SIM untuk Curi Motor

Close